بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kamis, 22 November 2012

Syarat-Syarat menuntut Ilmu


Syarat-Syarat Menuntut Ilmu

Aku teringat, ketika aku masih kecil. Ketika awal aku belajar, ada sebuah maqolah, yang bunyinya dalam bahasa arab:
Alaalaatanaul ‘ilma illa bi sittatin. Dzukaain wahirsin wasthibaarin Wabul ghotin  wair syaadi ustadzin wathuli zamani inilah syairnya syaidina ALI BIN ABI THOLIB.
Elingo golek ilmu iku sarate enem. Iki katerangane ojo nganti ra gelem. Sawiji kudu limpat, lobo kaping pindhone. Temen kaping telu, Pate ono sangune. Limane kudu ono guru kang mituturi. Suwe mangsane iki sarat kaping eneme.
Buat yang gak bisa basa jawa, dapat aku jelasin, kurang lebih begini:
Syarat mendapatkan ilmu itu ada enam, dan harus ditempuh semuanya.



FOTO-FOTO santri Qur'an HABIBUSSHOLIHIN Syurabaya.
 1. Cerdas
Yang dimaksud cerdas disini bukanlah
orang yang ber IQ tinggi, tapi cukup sehat akal alias tidak gila saja. Asalkan orang itu tahu bahwa kertas yang jika dilihat berwarna kemerahan bergambar Bung Karno dan Bung Hatta, dan disebaliknya bergambar gedung MPR, diraba terasa kasar, diterawang ada tanda air, adalah uang Rp.100.000,- itu sudah cukup cerdas.   

2. Rakus
Maksudnya jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang dimiliki. Di atas langit pasti ada langit, untuk itu perlu kita raih langit diatas kita.
3. Sungguh-sungguh
Belajar dengan sungguh sungguh, konsentrasi dan tidak mudah terbelok oleh kegiatan dan acara lain. Tetap fokus pada apa yang sedang dipelajari.
4. Dana alias duit alias harta
Untuk mendapat ilmu, perlu dikeluarkan banyak uang. Karena ilmu itu sangat mahal harganya. Walaupun katanya SPP gratis tetap aja ada tambahan biaya lainnya. Karena dalam mencari ilmu tidak ada yang namanya gratis.
5. Guru yang mengajar
Mencari ilmu tanpa guru bisa menyebabkan kesesatan, salah arah dan behkan kehancuran dunia. Wuih mantab. Karena keterangan dari guru ini penting. Jika seseorang hanya membaca buku terus menerus tanpa diajar oleh guru yang mengajarnya (Walaupun katanya buku adalah guru yang paling sabar, tapi buku kan tidak bisa mituturi), dia akan menjadi bingung bahkan stress.
6. Waktunya lama
Tidak ada ilmu secara instan. Walaupun ada di iklankan di koran, TV dan radio bisa ini itu secara cepat, dapat dipastikan pelajaran yang diterima masih sangat dangkal.
Semoga bermanfaat bagi kita semua.

SYARAT MENUNTUT ILMU
Oleh: Dede Alimuddin

Manusia dibedakan dengan makhluk hidup yang lain seperti hewan. Bumi diserahkan kepada hewan-hewan itu sudah siap pakai. Akan tetapi manusia tidak demikian, bumi diserahkan kepada manusia itu sudah siap olah, manusia berkewajiban mengolah. Yang berarti manusia dituntut berupaya, berusaha, dan bekerja keras. Dalam arti belajar dengan tekun bagi para penuntut ilmu untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan.
Dengan demikian berarti kerja keras manusia itu adalah bagian dari  kewajibannya. Atau belajar dengan tekun adalah bagian dari kewajiban penuntut ilmu untuk mencapai tujuannya yang lebih baik. 
Menuntut ilmu hukumnya sangat wajib bagi setiap muslim yang berakal, baik miskin atau kaya, orang kampung atau pun orang kota, selama dia berakal sehat wajib hukumnya menuntut ilmu. Dikatakan dalam Hadis :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَی كُلِّ مُسلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
“Menuntut ilmu itu sangat wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan” —Al-Hadis— 

Dalam kajian hukum Islam, bahwa standar hidup yang ideal bagi manusia adalah Haddul Kifâyah, Lâ Haddul Kafaf (batas kecukupan, bukan batas pas-pasan)[1]. Dan kita tahu bahwa kewajiban dalam menuntut ilmu dimulai dari rahim ibu sampai liang lahat. Dengan demikian untuk memenuhi standar hidup yang ideal hendaknya tidak hanya pas-pasan. Dalam kitab “Ta’lim al-Muta’allim” yang ditulis oleh Imam Al-Zarnuji, beliau menulis bahwa syarat-syarat mencari ilmu ada 6, yaitu:

1.      Cerdas. Adalah salah satu syarat untuk menuntut ilmu. Kecerdasan adalah bagian dari pengaruh keturunan jalur psikis. Dari ayah dan bunda yang cerdas akan lahir anak-anak yang cerdas, kecuali adanya sebab-sebab yang memungkinkan menjadi penghalang transformasi sifat-sifat tersebut baik situasi fisis maupun psikis.
      Sehat jasmani dan lemah jasmani, makanan bayi dalam kandungan maupun situasi psikis ayah bunda seperti semangat dan himmah menuntut ilmu, melakukan kejahatan, emosi, maupun warna pikiran akan ikut memberikan pengaruh yang besar bagi keturunan. Itulah buktinya bahwa dari ayah dan bunda yang sama akan lahir anak-anak dengan kondisi fisik, watak, sifat dan kecerdasan yang berbeda.
      Tentang kaitan keturunan dengan ilmu pengetahuan maka kita perlu mengingat bahwa yang diturunkan dari orangtua adalah tingkat kecerdasannya saja bukan kekayaan ilmu pengetahuan. Kekayaan ilmu pengetahuan tidak ada jalan lain kecuali belajar dengan baik. Sabda nabi Saw:
إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ (الحديث)
    “Bahwasanya ilmu itu diperoleh dengan (melalui) belajar”. —Al-Hadis—

      Dan yang menjadi masalah sekarang bagaimana anak yang cerdas (karena keturunan) tetapi tidak memiliki ketekunan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, jawabannya sudah pasti bahwa dia tidak akan menjadi orang pandai/‘Alim.

1.      Rakus (punya kemauan dan semangat untuk berusaha mencari ilmu)
      “Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Peribahasa ini memberikan arti bercita-citalah setinggi-tingginya dan raihlah cita-cita itu sampai dimana pun. Peribahasa tersebut memberikan motivasi kepada kita untuk pantang menyerah mengejar cita-cita (pendidikan) kita.
      Orang yang menuntut ilmu haruslah seperti peribahasa di atas: “selalu berusaha dan berusaha menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita yang tinggi”.
      Bahkan menurut Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas terhadap apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.


مَافِى الْمَقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ  .   مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ اْلاَوْطَانَ وَاغْتَرِبِ
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ   .  وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِى النَّصَبِ

      “Tidak cukup teman belajar di dalam negeri atau dalam satu negeri saja, tapi pergilah belajar di luar negeri, di sana banyak teman-teman baru pengganti teman sejawat lama, jangan takut sengsara, jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah menderita.” (diambil dari kitab Sejarah Hidup dan Silsilah Syekh Kiyai Muhammad Nawawi Tanara Banten yang ditulis oleh H. Rofiuddin. Hal. 4)

Dan ada tiga kategori manusia:
      Berjaya: jika hari ini lebih baik dari kemarin, Terpedaya: hari ini sama seperti kemarin, Celaka: hari ini lebih buruk dari kemarin.

1.      Sabar. Dikutip dari bukunya Prof. KH. Ali Yafie “Manusia dan Kehidupan” bahwa manusia pada hakekatnya dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab (tantangan). Seorang manusia harus mampu menjawab berbagai pertanyaan menyangkut kehidupannya yang terkait dengan berbagai tantangan dan persoalan. —2006: 1
      Seorang yang menuntut ilmu sudah barang tentu akan menghadapi macam-macam gangguan dan rintangan. Selain berusaha maka bersabarlah untuk menghadapi semuanya itu, dan perlu diketahui bahwa sabar adalah sebagian dari Iman, “As-Shobru mina al-îmân”. Dan Sabar disini mengandung arti tabah, tahan menghadapi cobaan atau menerima pada perkara yang tidak disenangi atau tidak mengenakan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah Swt. Sabda nabi Saw:
اَلصَّبْرُضِيَاءٌ
     “Bersabar adalah cahaya yang gilang-gemilang”.

      Akan tetapi kesabaran disini harus diartikan dalam pengertian yang aktif bukan dalam pengertian yang pasif. Artinya nrimo——menerima— apa adanya tanpa usaha untuk memperbaiki keadaan. Sesuai ajaran agama pengertian sabar dan kata-kata sabar itu misalnya dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran. Yakni satu surat yang terdiri dari 200 ayat yang menjelaskan tentang keseluruhan perjuangan besar dan berat yang telah dilakukan rasulullah Saw sepanjang hidupnya dan itu semua direkam dalam Surat Ali Imran. Ada dua perjuangan berat dan sangat menentukan yaitu pertempuran badar dan uhud. Di dalamnya terdapat banyak kata-kata sabar, tetapi kata-kata sabar itu selalu diletakan dalam konteks perjuangan bukan dalam konteks seseorang ditimpa musibah. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran dan kesimpulan pengertian bahwa sabar yang aktif itu artinya suatu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha keras seoptimal mungkin dengan penuh daya tahan, tidak jemu, tidak bermalas-malasan, tetapi belajar dengan penuh semangat. Selain itu, dalam belajar harus berkonsentrasi (Khudzurul Qalb) karena jika belajar pikirannya bercabang maka tidak bisa optimal. Salah satu bagian dari sabar adalahKhudzurul Qalb.

1.      Bekal (biaya). Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, itulah logikanya, manusia menjalani hidup ini butuh pengorbanan begitupun menuntut ilmu.
      Biasanya, dalam hal biaya ini menjadi dalih masyarakat yang sangat utama dalam menuntut ilmu khususnya pada pendidikan formal. Sehingga ketika ditanya salah seorang yang tidak belajar di pendidikan formal misalnya, “kenapa kamu atau dia tidak sekolah?” jawabannya sungguh gampang sekali, “saya atau dia tidak sekolah karena tidak punya biaya.
      Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan dijelaskan lagi dalam hadis “Tuntutlah ilmu mulai dari rahim ibu sampai liang lahat”. Dari hadis tersebut kita bisa mengetahui bahwa, seumur hidup kita wajib menuntut ilmu. Pendidikan bukan hanya pendidikan formal tetapi non formal pun ada. Rasul menjanjikan kepada para penuntut ilmu,

إنَّ ﺍﷲَتَكَفَّلَ لِطَالِبِ اْلعِلْمِ بِرِزْقِهِ 
“Sesungguhnya Allah pasti mencukupkan rezekinya bagi orang yang menuntut ilmu”

      Dalam lafal hadis di atas tertulis lafazh takaffala dengan menggunakan fi’il madhy yang aslinya mempunyai arti ‘telah mencukupkan’ yang “seolah-olah” sudah terjadi. Maka lafazh tersebut mempunyai makna pasti, asalkan dibarengi dengan keyakinan terhadap kekuasaan Allah. Dan yakinkanlah bagi para penuntut ilmu walaupun dengan segala kekurangan——biaya— pasti mampu atau bisa menyelesaikan pendidikan. Karena pasti akan ada jalan lain selama manusia berusaha dan yakin terhadap kekuasaan dan pertolongan Allah Al-Yaqinu Lâ Yuzâlu bi as-Syak Artinya: ”keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keragu-raguan”. Dan akhirnya maka tidak ada alasan orang tidak bisa menuntut ilmu karena biaya, seperti keterangan sebelumnya carilah jalan lain, solusi lain untuk bisa menuntut ilmu.

1.      Petunjuk Guru; Profesionalisme Guru
      Ilmu didapat dengan dua cara. Pertama dengan bil kasbi. Yakni didapat dengan cara usaha keras sebagaimana layaknya pencari ilmu biasa. Ia belajar menuntut ilmu dengan tekun belajar dari bimbingan yang benar. Kedua denganbil kasyfi. Yakni dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt secara total. Dengan kedekatannya kepada Allah Swt, Allah akan memberi apa yang ia minta. Cara ini adalah cara untuk orang khusus. Sebagai penuntut ilmu berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mengkorelasikan keduanya. Juga, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat petunjuk guru karena tanpa petunjuk guru dan tanpa taqarrub (ibadah mendekatkan diri) total kepada Allah bisa jadi ilmu tersebut datangnya dari iblis la’natullah ‘alaih. Profesionalisme guru artinya seorang guru harus mampu menguasai pelajaran sesuai dengan bidangnya.
      Sebagai guru haruslah mempunyai sifat-sifat yang mencerminkan kemuliaan ilmu dan tabi’at——akhlaq—yang baik. Kita analogikan seorang petani profesional akan merawat tanamannya dari rumput pengganggu, ia akan membasmi hama dan penyakitnya. Demikian pula seorang pendidik haruslah membersihkan dirinya dari segala kebiasaan buruk dalam masyarakat. Ia akan tanggap dan waspada dengan para penyeru maksiat. Hendaklah ia membenahi dirinya sebelum ia menebarkan benih-benihnya. Ia harus menanamnya dalam lahan yang subur. Hendaklah ia menyibukkan diri dengan amal kebaikan, kesibukan-kesibukan akhirat yang akan menjadi tameng dari syahwat dan syubhat. Kemudian sebaik-baik pendidik adalah yang konsisten dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang tercermin lewat akhlak dan amalan-amalannya yang shalih. Cerdas dalam mendeteksi penyakit hati serta berpengalaman dalam mengobatinya, remaja yang tumbuh dari pendidikan—tarbiyah—yang baik maka akan menjadi buah yang segar nan ranum. Ia bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar.
      Beberapa ciri-ciri tabi’at guru—pendidik—yang harus ditanamkan adalah sebagai berikut:
·         Mencintai pekerjaannya sebagai guru
·         Adil terhadap semua murid
·         Sabar dan tenang
·         Berwibawa (dilihat dari ilmu dan taqwanya) serta kemampuan memengaruhi orang lain
·         Harus gembira
·         Bersifat manusiawi
·         Bekerja sama dengan manusia lain
·         Bekerja sama dengan masyarakat
·         Selalu ikhlas mendoakan muridnya
·         Berusaha ikhlas mengajarkan ilmunya

1.      Lama Waktunya. Maksudnya selesaikanlah pendidikan itu samapai tuntas, jangan sampai berhenti di tengah jalan.

Kemudian Pesan dan Prinsip menuntut ilmu tergambar pada kata pepatah sebagai berikut:
   “Berfikirlah di waktu pagi. Bekerjalah di waktu siang. Makanlah di waktu   sore. dan Tidurlah di waktu malam”.

Pada kalimat pertama dalam pepatah mengatakan, “Berfikirlah di waktu pagi”.Mempunyai pengertian agar kita belajar pada usia muda——mulai dari kecil—dengan sungguh-sungguh, tekun, rajin, percaya diri, serta tidak terpengaruh oleh lingkungan.
 Ungkapan tersebut juga menganjurkan agar kita menggunakan waktu sebaik-baiknya, karena kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah pandai mengatur waktu secara efektif, dengan mendahulukan aktifitas yang lebih penting dan membuang aktifitas yang kurang penting. Ini dapat dianalogikan sebagaimana uang yang hilang dapatlah dicari gantinya, kesehatan yang terganggu ada obatnya, tetapi bila waktu dan kesempatan yang hilang atau disia-siakan, maka tidak akan ada gantinya untuk selamanya.
Bagi seorang penuntut ilmu, bila di masyarakat hasil belajarnya tidak sesuai yang diharapkan, maka akan mengeluh dan menyesal. Bahkan masyarakat akan mencemoohnya. Hal ini digambarkan oleh seorang penyair :

   “Akan datang kepadamu hari-hari dimana dirimu merasa masih bodoh, dan          akan datang pula berita tentang kekurangan perbekalanmu”.

Bagi seorang penuntut ilmu yang hidup di lingkungan pendidikan, tidak boleh merasa dirinya paling bisa dan bersikap gengsi dengan tidak mau mencari tambahan ilmu. Kisah Nabi Musa a.s. Harus menjadi ibarah. Beliau merasa dirinya paling pandai ketika ditanya oleh umatnya, sehingga Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mencari tambahan ilmu kepada Nabi Khadir. Diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi Ayat 66-78, sebagai berikut:
Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku.
Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".
Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu Telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah Aku Telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".
Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan Karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu Telah melakukan suatu yang mungkar".
Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
Musa berkata: "Jika Aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan Aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

Pada kalimat kedua, “Bekerjalah di waktu siang”. Pepatah ini mengandung pengertian agar mengamalkan ilmu yang sudah diperoleh, baik dengan mengajar maupun terus mencari tambahan ilmu lagi. Rasulullah Saw, bersabda:

   “Andai kata seseorang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Nabi             Musa-lah yang paling cukup”.

Dalam menuntut ilmu pengetahuan, tidak ada kata berhenti. Dalam arti, seorang penuntut ilmu yang telah selesai pendidikannya dan berkecimpung di masyarakat, tidak bisa mementingkan urusan bisnis dan ekonomi saja, tapi juga harus ikut memecahkan problematika yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Motivasi yang harus ditanamkan adalah dengan keikhlasan. Sehingga dengan hal tersebut orang lain akan lebih mudah menghargainya. Sikap ikhlas seseorang dapat diketahui dari tidak adanya pamrih apapun dari orang lain. Seorang penuntut ilmu harus mampu menghormati orang lain, karena bagaimana pun juga seseorang tidak akan bisa sukses dalam mencapai tujuan tanpa ada peran orang lain. Sikap dan perilaku hormat ini digambarkan oleh pesan Abu Bakar r.a kepada tentaranya :

   “Perbaikilah dirimu, maka niscaya orang lain akan berbuat baik     terhadapmu”.

Pada kalimat ketiga, “Makanlah di waktu sore”. Pepatah ini mengandung pengertian bahwa jerih payah seseorang yang telah dikerjakan di waktu muda, pada saat tua tinggal memetik hasilnya. Seorang penyair mengatakan :
  
“Karena orang-orangtua dulu telah menanam maka kita dapat memakan buahnya sekarang. Maka kita sekarang dituntut menanam sehingga buahnya dapat dimakan oleh orang-orang yang akan datang”.

Pada kalimat terakhir, “Tidurlah di waktu malam”. Artinya ketika engkau wafat, maka wafatlah dengan tenang.  

Mari kita perhatikan persyaratan selanjutnya yang harus dipenuhi bagi penuntut ilmu khususnya bagi penuntut ilmu agama. Ada empat macam persyaratan yang tidak boleh ditinggalkan supaya ilmu yang dipelajarinya menjadi ilmu yang manfaat dan barakah——bertambah kebaikan—.
Pertama: penuntut ilmu, khususnya penuntut ilmu agama ketika keluar dari rumah pergi ke tempat belajar, harus punya niatan semata-mata untuk menghilangkan kebodohan.
نَوَيْتُ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرْضًا ِﷲِ تَعلی
“Nawaitu thalaba al-ilmi fardhal lillahi ta’ala”

Kedua: niat menuntut ilmu agama supaya kehidupan kita di dunia fana’ ini berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Nabi Muhammad Saw bersabda:

   “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”.
Rasulullah Saw mengumpamakan sifat orang mukmin seperti sifat lebah, dalam sabda-nya:
“Sifatnya orang mukmin seperti sifatnya lebah (tawon madu),
1.      Bila makan, yang dimakan adalah halal——yaitu sari bunga yang dihisapnya¯¯,
2.      Bila mengeluarkan, yang dikeluarkan adalah madu, yang bermanfaat bagi kesehatan. Bila kita mengeluarkan pembicaraan, pembicaraan kita harus berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Pembicaraannya tidak menyakitkan orang lain.
3.      Bila hinggap di dahan yang lapuk maka lebah tidak merusak (tidak mematahkan dahan yang lapuk yang dihinggapinya).
Ketiga: ketika berangkat menuntut ilmu mempunyai niatan untuk menghidupkan ilmu agama atau meneruskan perjuangan para ulama ketika pulang nanti. Karena, jika mayoritas umat Islam sudah meninggalkan mempelajari ilmu agama, maka ilmu agama akan lenyap dan hilang dengan sendirinya. Seperti yang disinyalir oleh nabi dalam sabda-nya:

“Pelajarilah ilmu agama (tuntutlah ilmu agama dengan bersungguh-sungguh         dan tekun) sebelum ilmu agama itu ditarik, dicabut oleh Allah. Caranya Allah mencabut ilmu agama itu karena wafatnya ulama (yang membidangi ilmu agama itu sendiri)”.

Sedangkan generasi penerusnya enggan untuk mempelajarinya, dengan dalihkalau mempelajari ilmu agama dengan tekun, khawatir masa depannya suram, khawatir tidak bisa kaya, tidak punya jabatan, dan lain-lain seperti yang kita saksikan pada masa sekarang ini.
Ilmu  agama itu diangkat, maksudnya ilmu agama sudah tidak dianggap penting lagi. Tidak mendapatkan perhatian yang serius, memandang ilmu agama dengan sebelah mata dan akhirnya lenyap karena tidak ada yang mempelajarinya.
Keempat: niat menuntut ilmu agama untuk diamalkan. Bukan untuk bangga, untuk menyombongkan terhadap orang lain, tapi diamalkan dikala sudah kembali ketempat masing-masing.

   “Ilmu tanpa amal membahayakan (bagi yang punya ilmu), dan amal tanpa            ilmu menyesatkan (dirinya sendiri dan orang lain)”.

Ketenangan Hati
Segala pekerjaan dilakukan tidak dalam keadaan tenang, maka akan menimbulkan masalah. Begitu juga dengan menuntut ilmu, seyogyanya para penuntut ilmu berkonsentrasi penuh dalam belajar jangan ada keragu-raguan, jangan tergesa-gesa yang akhirnya bisa merusak belajar. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin untuk belajar, dengan kata lain tiada hari tanpa belajar. Karena Agama Islam sangat memerhatikan pentingnya soal waktu. Tenangkan hati jangan sampai memikirkan hal-hal yang tidak penting.
Bahwa manusia yang memperoleh kebaikan dalam hidup adalah mereka yang memperoleh ketenteraman batin. Hidup penuh ketenangan, tanpa rasa takut maupun khawatir. Semuanya akan diperoleh mana kala ikhtiyar dan usaha manusia ditopang oleh Taqwa dan Tawakkal. Tawakkal disini berarti kepasrahan setelah berusaha. Penuntut ilmu berusaha belajar setekun mungkin, kemudian berdoa. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah Swt:


“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali (kekasih-kekasih) Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak——pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (QS. Yunus: 62-63).

Tuntutan Hati
Tuntutan hati dibagi, antara lain:
1.      Ilmu. Bahwa sifat hati selalu ingin tahu sehingga manusia didefinisikan sebagai makhluk yang selalu bertanya atau makhluk filsafat.
2.      Hidayah. Artinya gemar melakukan yang baik, terpuji, menghindari perbuatan yang jelek. Bahkan tiap-tiap perbuatan yang jelek pada hakikatnya bertentangan dengan hati nurani.
3.      Irsyad. Artinya mampu menyerap petunjuk rohani serta mampu membedakan amal yang baik dan jelek.
4.      Taufiq. Artinya mampu melakukan perbuatan yang sesuai dengan tuntutan Rasul Saw, dan akal sehat.
5.      Ma’rifat. Artinya mampu melihat Allah dengan mata hati. Bahkan mata hati adalah satu-satunya alat untuk ma’rifatullah. Tatkala akal dan mata kepala tidak mampu menemukan hakekat Allah.

Kemudian hendaknya para penuntut ilmu dapat memelihara dan membersihkan hati dari sifat-sifat sebagai berikut:
1.      Isti’jal (tergesa-gesa)
Bahwa tergesa-gesa adalah pekerjaan syetan. Pada hakikatnya semua kegiatan——pekerjaan— yang baik dengan niat yang baik bagi mukmin bernilai ibadah. Karenanya harus ditunaikan dengan tenang, tidak tergesa-gesa bahkan harus disertai dengan taqwa dan tawakkal.
2.      Hasad (dengki)
        Tidak senang apabila temannya mendapat nikmat atau berusaha dengan segala macam jalan untuk merebutnya. Kalimat bijak menyatakan:

الْحَسُوْدُ لاَيَسُوْدُ وَلَوْبَلَغَ اْلمَقْصُوْدُ (الكلمةالحكيمة)
            “Orang hasud (dengki) tidak pernah mampu menjadi pemimpin (yang baik)            sekalipun ia telah berhasil merebut kepemimpinan itu (dari tangan orang           lain)”.

       Orang hasud bahkan akan merusak kebaikan bagaikan api melalap kayu bakar. Sebagai mana sabda nabi Saw yang berbunyi:

فَإِنَّ الحَسَد يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الخَطَبَ (الحديث)
“Maka sesungguhnya hasud dapat memakan merusak kebaikan seperti apimelalap kayu bakar”. —Al-Hadis—

       Dengan hasud orang akan menyiksa batin dan dirinya sendiri. Setiap muslim          terhadap orang lain yang memperoleh nikmat harus ikhlas atau bahkan ikut            mensyukuri sambil berusaha dan berdoa kepada Allah, sehingga nantinya akan tiba giliran nikmat untuk dirinya.
3.      Kibr (Sombong)
        Merasa dirinya paling besar, sedang lainnya rendah. Kibr, sifat yang hanya boleh dimiliki oleh Allah Swt. Soal kaya, miskin, pangkat dan tidak, dijadikan Allah sebagai seni kehidupan. Yaitu agar kehidupan ini berjalan harmonis dan saling kasih sayang.
4.      Tulul Amal (Tinggi dan Panjang Angan-angan)
        Berangan-angan terhadap hal yang tidak realistis, melainkan bersifat melamun dan khayalan. Nabi melarang membuang-buang waktu dan melakukan yang tidak berguna. Sebagai mana sabda nabi Saw yang berbunyi:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المرءِ تَرَكَ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه البخاري)
      Agama juga melarang orang berfikir yang melebihi batas dari jangkauan kemampuannya. Sebagaimana sabda nabi Saw yang berbunyi:

تَفَكَّرُوْا فِي الْخَلْقِ وَلاَتَفَكَّرُوْا فِي الخَالِقِ فَإنَّكُمْ لاَتَقْدِرُوْنَ قَدْرَهُ (رواه أبوالشيخ)
“Berfikirlah kamu sekalian——sebatas makhluk Allah dan janganlah berfikir (melebihi batas) tentang dzat Allah. Karena sesungguhnya engkau tidak akan mampu mencapai (hakekatnya)”. (HR. Abu Syekh).



Fungsi hati dalam kehidupan manusia:
ü      Tempat menyimpan suara hati (Concience), manusia akan menjadi baik mana kala mau konsisten dengan panggilan hati nuraninya, karena suara hati adalah pantulan dari fitrah jiwanya. (Lihat Surat ar-Rûm, Ayat. 30)
ü      Fungsi seluruh tubuh manusia, yang dimaksud adalah bahwa kebaikan maupun kejelekan seluruh tubuh. Kebaikan seseorang menentukan kesehatan jasmaninya. Sebaliknya hati yang jelek akan besar pengaruhnya terhadap kejelekan jasmani.

Nabi Saw, bersabda:
اَلآ إنَّ فِيْ الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ اَلآ وَهِيَ القَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)
“Ingat di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka akan baik seluruh anggota tubuh dan apabila ia rusak maka akan rusak seluruh anggota tubuh. Ingatlah itulah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Obat Hati
Adapun beberapa obat hati yang mungkin sudah kita tahu diantaranya, sebagai berikut:
1)      Membaca Al-Qur’an dan makna-nya
2)      Mendirikan Shalat malam (Qiyamullail)
3)      Berkumpul/ bergaul dengan orang saleh
4)      Memperbanyak puasa sunnah
5)      Berdzikir kepada Allah dengan lama pada malam hari.




[1] Prof. KH. Ali Yafie, Upaya Memahami Makna Hakikat Kehidupan Manusia,Pustaka Pelita, 2006 Hal.18

Posted January 12, 2010
ADAB MENUNTUT ILMU (BELAJAR)
Oleh: Dede Alimuddin

Dalam keseluruhan proses pendidikan di lembaga formal atau non formal kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Berhasil tidaknya mencapai tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh penuntut ilmu.
Pandangan tradisional, ‘belajar’ adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. (Abu Ahmadi, 1991:14). Pendapat ini yang dipentingkan adalah pendidikan intelektual sehingga proses belajarnya dengan memberi para penuntut ilmu bermacam-macam mata pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan bahan menghafal.
Dalam kepustakaan psikologi, ‘belajar’ merupakan terjemahan dari “learning”yang secara sederhana diartikan sebagai “proses belajar” atau “learning process”. Learning process adalah merupakan aktivitas individu, sehingga belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan yang terus-menerus terjadi dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman. (Noehe Nasution, 1992:77)
Sedangkan menurut Ahli Pendidikan Modern, ‘belajar’ adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, timbul dan berkembangnya sifat-sifat sosial, susila, dan emosional.
Dari definisi-definisi di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Tentu saja yang diinginkan adalah perubahan yang berencana dan yang bertujuan.
Belajar atau menuntut ilmu sebagai suatu proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan  bisa berlangsung dengan dua metode sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya di atas. Pertama, ilmu diperoleh dengan upaya manusia——‘Ilm Al-Kasbi, Kedua, diperoleh tanpa upaya manusia——‘Ilm Al-Mukasyafah. Tapi ada juga dengan sebutan “Ilmu Ladunni”. Yaitu proses mendapatkan ilmu dengan jalan mendekatkan diri (Taqarrub) kepada Allah secara total. Yakni dengan cara mensucikan diri, mendekatkan diri, beribadah kepada Allah dengan total untuk memperoleh ilmu. Kemudian dengan kedekatannya kepada Allah, maka Allah akan memberi apa yang ia minta. Sebenarnya metode ini biasa dilakukan oleh orang-orang khusus seperti para Nabi, Waliyu Allah (Kekasih Allah) dan Ulama-ulama Khos (Benar-benar Alim).
Kedua metode tersebut mengandung pengertian bahwa proses belajar itu akan berhasil apabila terjadi interaksi harmonis, baik secara horizontal maupun vertikal, dan antara pribadi penuntut ilmu (intern) dan guru serta lingkungannya (ekstern). Oleh karena itu menurut Hadratu Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari[1]keberhasialan proses belajar sangat dipengaruhi oleh tatakrama (etika) penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri maupun guru, lingkungan, bahkan Tuhannya.
Adapun konsep tatakrama (etika) bagi penuntut ilmu yang dikemukakan oleh Hadratu Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya “Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim”, diantaranya sebagai berikut:

1.                   I.      Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dengan Dirinya Sendiri
v     Hendaknya ia mensucikan hatinya dari segala macam sifat-sifat yang tidak terpuji. Seperti menjauhkan diri dari akidah yang jelek, perilaku kotor, hasud, dengki, dan sebagainya.
v     Hendaklah penuntut ilmu dalam menuntut ilmu memiliki niat yang baik dengan mengharap ridha Allah Swt, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat Islam, menerangi hatinya——dengan berdzikir—, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt Penuntut ilmu wajib memiliki niat yang baik pada saat menuntut ilmu.
v     Hendaknya penuntut ilmu memanfaatkan waktu mudanya dengan menggunakan seluruh waktunya untuk mencari ilmu. Dan janganlah ia tertipu oleh banyak lamunan dan angan-angan. Sebab waktu terus berjalan, tidak akan berulang dan tidak akan berganti lagi. Maka apabila ia tergantung dengan kesibukan dan hal-hal yang menghambat dalam mencari ilmu maka hal tersebut akan memutuskan jalan mendapat ilmu.
v     Hendaknya seorang penuntut ilmu bersifat qana’ah dalam makanan dan pakaian. Sebab dengan sifat sabar dan qana’ah maka ia akan memperoleh keluasan ilmu dan dapat mengonsentrasikan hatinya untuk menggapai semua cita-cita dan pada gilirannya ia akan memperoleh sumber-sumber ilmu yang bermanfaat.
v     Imam As-Syafi’i berkata “Tidak akan berbahagia (sukses) orang yang mencari ilmu dengan mengandalkan kemuliaan diri dan banyaknya harta tetapi akan sukses orang yang akan mencari ilmu dengan kehinaan diri dan sempitnya harta benda serta mengabdikan diri pada ulama”.
v     Penuntut ilmu hendaklah dapat membagi waktu antara malam dan siang serta selalu memanfaatkan waktu dari umurnya. Karena umur seseorang itu tidak ternilai harganya.
v     Waktu yang paling baik untuk menghafal adalah waktu sahur. Waktu untukmembahas adalah waktu pagi. Waktu untuk menulis adalah tengah hari (siang hari). Dan waktu untuk muthala’ah dan mudzakarah adalah malam hari.
v     Tempat yang paling baik untuk menghafal adalah ruangan khusus (kamar) dan tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Tidak baik menghafal di bawah pohon, di tepi sungai, dan di tempat gaduh.
v     Penuntut ilmu hendaknya tidak banyak makan dan minum. Sebab kekenyangan makan dapat menghambat kegiatan beribadah dan memberatkan badan.
v     Termasuk keuntungan atau faidah, sedikit makan adalah menyehatkan badan dan menolak berbagai macam penyakit badan, dan sebab banyaknya penyakit adalah karena banyak makan dan minum.
v     Di dalam maqolah disebutkan “Sesungguhnya penyakit yang banyak kita lihat itu adalah disebabkan oleh makanan dan minuman”.
v     Makan sedikit juga menyebabkan sehatnya hati dari penyakit (durhaka) dan sombong.
v     Penuntut ilmu hendaknya selalu menanamkan dirinya untuk bersifat wara’dan berhati-hati terhadap semua perilaku dan tingkah lakunya serta selalu mencari yang halal dari makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan dalam semua kebutuhannya. Supaya hatinya selalu terang dan dapat menerima ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
v     Penuntut ilmu hendaknya mengurangi mengonsumsi makanan yang menyebabkan bodoh (pelupa) dan lemah hafalannya seperti makan sayur-sayuran dan minum khamr.
v     Penuntut ilmu hendaknya mengurangi tidur selama tidak menimbulkan bahaya bagi badan dan pikirannya. Janganlah penuntut ilmu tidur lebih dari delapan jam sehari semalam. Apabila mampu maka ia bisa mengurangi lagi.
v     Penuntut ilmu hendaknya meninggalkan bercanda. Lebih-lebih pada lawan jenis. Sebab bahaya dari bercanda adalah menyia-nyiakan waktu tanpa ada manfaatnya dan menghilangkan nilai agama pada dirinya.

Apabila ia membutuhkan kawan maka carilah kawan yang baik (saleh) agamanya, taqwanya, wira’inya, banyak kebaikannya, sedikit perintah jeleknya serta suka mengingatkan apabila terlupa dan suka menolong.

1.                II.      Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dengan Guru
v     Sebelum penuntut ilmu menetapkan guru hendaklah ia berpikir dulu serta beristikharah kepada Allah untuk memilih orang yang akan memberi bimbingan (guru) dalam memperoleh ilmu kemudian memperlakukan guru dengan akhlaq yang baik dan sopan santun. Hendaklah ia memilih orang-orang yang profesional, ahli dalam bidang keilmuannya, memiliki rasa kasih sayang, tampak kewibawaannya dan tampak jelas perilakunya. Sebagaimana ulama salaf berkata, “Ilmu itu adalah agama maka lihatlah (angan-anganlah) dari siapa engkau memperoleh (mengambil) agamamu”.
v     Penuntut ilmu harus bersungguh-sungguh memilih guru yang mengerti benar tentang syari’at, dan bisa dipercaya kemahiran ilmunya (hukum syari’atnya). Jangan berasal dari orang yang memperoleh ilmu hanya sebatas kulitnya. Imam As-Syafi’i berkata, “Barang siapa belajar dari pinggir-pinggirnya kitab maka ia menyia-nyiakan hukum”.
v     Penuntut ilmu hendaknya patuh dan taat kepada gurunya. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada Allah dalam berkhidmat kepada guru.
v     Penuntut ilmu hendaknya memandang guru dengan penuh kehormatan dan keagungan terhadapnya. Dan meyakini akan besarnya derajat kesempurnaan seorang guru. Sebab keterangan tersebut akan lebih dekat terhadap manfaat ilmu yang diperolehnya. Abu Yusuf berkata, “Barang siapa yang tidak meyakini keagungan gurunya maka ia tidak akan sukses”.
v     Hendaklah penuntut ilmu mengerti hak-hak guru dan jangan lupa mengutamakannya. Sebaiknya penuntut ilmu mengenang guru pada waktu hidup atau sesudah mati, penuntut ilmu juga seyogyanya menjaga keluarga guru serta kerabat dan orang yang dikasihi guru. Penuntut ilmu hendaknya sering berziarah ke makam gurunya apabila ia sudah meninggal dan memohonkan ampun untuknya serta bersedekah baginya.
v     Penuntut ilmu hendaknya harus bersabar dalam menghadapi guru yang berwatak keras dan kurang baik dan janganlah menolaknya dengan kasar sebab sifat kerasnya seorang guru semata-mata karena sayangnya guru kepada muridnya dalam membimbing dan memberi petunjuk kepada penuntut ilmu.
v     Penuntut ilmu hendaknya jangan masuk ke tempat atau kediaman guru kecuali atas izinnya dan janganlah lewat dihadapannya baik ketika ia sendiri atau bersama orang lain tanpa izin darinya. Ketika penuntut ilmu hendak berkunjung ke kediamannya maka ucapkanlah salam tidak lebih dari tiga kali dan apabila mengetuk pintu maka ketuklah dengan pelan-pelan, ketika ia memasuki rumahnya, hendaknya ia bersikap yang baik dan berbusana yang baik——menurut Islam—, bersih dan rapi terlebih ketika hendak menuntut ilmu. Penuntut ilmu juga harus menjaga untuk tidak memulai berbicara sebelum diperintahkan, dan janganlah duduk atau pergi kecuali atas izin guru. Apabila guru itu sedang istirahat maka sabarlah menunggu sampai terbangun.
v     Ketika penuntut ilmu duduk di hadapan gurunya hendaklah ia memilih adab tatakrama, dan hendaklah ia seperti saat tasyahud pada waktu shalat atau duduk bersila dengan penuh tawadhu’, tenang dan khusyu’, penuntut ilmu jangan menoleh sekalipun mendengar sesuatu kecuali bila ada keperluan lebih-lebih ketika membahas tentang ilmu. Penuntut ilmu harus memuliakan dan menghormati kerabat, teman dari guru. Karena pada hakikatnya menghormati mereka berarti menghormati guru. Termasuk menghormati guru adalah jangan duduk di tempat guru, di mushallanya, di tempat tidurnya dan jangan pergi dari sisinya kecuali ada izin darinya.
v     Hendaknya penuntut ilmu selalu berbicara yang sopan dan baik. Dan hendaknya penuntut ilmu berhadapan dengan guru dengan wajah berseri-seri.
v     Apabila mendengar keterangan guru tentang masalah-masalah hukum atau berita-berita maka dengarkan dengan penuh perhatian sekalipun ia sudah mendengar sebelumnya. Imam Atho’ r.a. berkata, “Sesungguhnya aku tetap akan mendengarkan hadis dari orang lain sekalipun aku lebih tahu (alim) dari orang tersebut”.
v     Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.
v     Apabila guru memberi sesuatu, maka terimalah dengan tangan kanan, bila guru meminta buku untuk dibaca maka berikan buku itu dalam keadaan siap dibaca. Sehingga guru tidak kesulitan untuk membacanya. Dan jangan menyimpan sesuatu yang ada di dalam buku. Apabila penuntut ilmu berjalan bersama guru maka hendaklah ia berada di depan guru pada malam hari dan di belakang guru pada siang hari, kecuali bila ada keperluan lain. Apabila hendak berteduh dan berbincang-bincang dengan guru maka hendaknya penuntut ilmu berada di sebelah kanan guru. Apabila bertemu dengan guru di jalan maka ucapkanlah salam tetapi bila jaraknya jauh jangan memanggil, jangan mengucapkan salam dan jangan memberi isyarat, akan tetapi dengan menundukan kepala.



1.             III.      Konsep Tatakrama Penuntut Ilmu Dalam Memilih Pelajaran dan Teman Belajar
1.      Ketika belajar penuntut ilmu hendaknya mendahulukan pelajaran yang wajib, yaitu :
1)      Ilmu Tauhid tentang hal-hal yang berhubungan dengan dzat Tuhan (Hakikat Tuhan/ Tauhid)
2)      Ilmu tentang sifat-sifat wajib bagi Tuhan yang dua puluh dan sifat-sifat mustahil-nya
3)      Ilmu Fiqih yang membahas tata cara ibadah, seperti thaharah, shalat, dan puasa
4)      Ilmu tentang sikap dan tingkah laku serta maqam-maqam (tingkat kedudukan) ibadah dan hal-hal yang memengaruhi jiwa manusia baik pengaruh negatif maupun positif.
1.      Penuntut ilmu hendaknya selalu melaksanakan sesuatu yang telah diwajibkan dengan belajar Al-Qur’an, memahami tafsirnya dan semua ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah induk dan sumber berbagai macam ilmu. Penuntut ilmu hendaknya menghafalkan ilmu pendukung Al-Qur’an terdiri dari hadis, ilmu hadis, ilmu ushul, nahwu, dan sharaf. Tetapi jangan sampai meninggalkan mempelajari Al-Qur’an, memegang teguh prinsip-nya dan selalu rutin membaca-nya. Penuntut ilmu harus berusaha menghindari lupa dan alpa dari sesuatu yang telah dihafalkan dengan tetap selalu setor hafalan kepada guru. Hendaknya penuntut ilmu menghindari hanya berpegang atau terpaku pada satu ilmu saja. Tetapi harus berpegang kepada semua jenis ilmu dan mendalaminya. Penuntut ilmu hendaknya selalu wira’i atau menjaga adab sopan santun terhadap guru-gurunya lebih-lebih guru agama, dan bersikap kasih sayang padanya. Penuntut ilmu selalu berusaha sekuat tenaga untuk menghafal dan mencari penjelasan tanpa mengenal lelah dan bosan.
2.      Hendaknya penuntut ilmu menghindari pelajaran tentang masalah-masalah khilafiyah (beda pendapat). Hal tersebut menyebabkan membingungkan akal dan menyusahkan hati, tetapi mulailah dengan satu macam kitab melalui pembahasan dengan guru. Apabila guru memulai sesuatu dengan masalah-masalah khilafiyah maka menurut Imam al-Ghazali sebaiknya penuntut ilmu menghindar darinya karena hal tersebut lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya. Demikian pula penuntut ilmu menghindari memulai belajar atau membaca bermacam-macam yang berbeda-beda karena hal tersebut menyia-nyiakan umur dan membuat orang tidak mempunyai pendirian. Penuntut ilmu hendaknya menghindari berpindah-pindah membahas kitab sebelum terlebih dahulu ia memahami dengan sempurna. Mulailah dengan pelajaran yang penting terlebih dahulu kemudian jangan lupa untuk menghafalkannya.
3.      Setelah penuntut ilmu memahami apa yang telah dibacanya maka hendaknya ia mentashihnya kepada guru atau kepada orang yang dipercaya. Kemudian ia menghafalkannya dengan baik, setelah ia menghafalkan hendaknya ia mengulangi dan sebaiknya penuntut ilmu memahami pelajaran dengan sempurna dan menguasai bahasanya seperti i’rabnya.
4.      Hendaknya penuntut ilmu belajar tepat pada waktunya. Terlebih ketika memulai belajar hadis. Dan janganlah menyia-nyiakan waktu. Pelajarilah hadis beserta ilmu hadis, sanad, hukum, faedah, tata bahasa dan sejarah hadis. Mulailah dengan mempelajari hadis Bukhari dan Muslim. Kemudian hadis-hadis yang lain yang masyhur dan mu’tamad seperti Muaththo’ danAshabus Sunan. Janganlah memotong materi hadis kemudian pindah ke materi lain, sebaik-baik dasar fiqih adalah kitab-kitab hadis, sebab hadis adalah ilmu syari’at dan dasar pokok dari sendi-sendi ilmu yaitu Al-Qur’an. Imam As-Syafi’i berkata,“Barang siapa mempelajari hadis maka kuat hujjahnya (hadisnya/wacananya)”.
5.      Apabila penuntut ilmu hendak menjelaskan suatu materi pelajaran atau meringkas materi-materi tersebut maka hendaknya mengambil dari pembahasan kitab-kitab besar (kitab yang luas pembahasannya) dengan melalui muthala’ah dan menggali masalah-masalah yang penting serta mengupas masalah-masalah yang sulit. Dan memisahkan hukum-hukum yang subhat (yang belum jelas). Hendaknya penuntut ilmu memiliki kemampuan dan semangat yang tinggi, penuntut ilmu tidak cukup memiliki ilmu yang sedikit kalau masih mungkin baginya ilmu yang banyak. Janganlah ia puas dengan ilmu yang sedikit dan jangan menunda-nunda mencari ilmu karena menunda-nunda waktu belajar itu sangat berbahaya baginya, pergunakanlah waktu luang, waktu muda, waktu sehat, dan waktu senggang sebelum datangnya hal-hal yang mengahambat. Dan hindarilah menganggap dirinya lebih sempurna dari pada gurunya. Karena sifat itu menunjukan kebodohan dan kedangkalan pada dirinya. Sayyid said bin Jubair r.a, berkata,“Seseorang itu disebut alim selagi selalu belajar, apabila meninggalkan belajar dan menganggap ia lebih mampu, maka ia sebodoh-bodohnya manusia”.
6.      Hendaknya penuntut ilmu belajar bersama guru dan bersama teman bila memungkinkan. Sebab kebersamaan tersebut akan menambah kebaikan, tatakrama dan keutamaan. Hendaknya penuntut ilmu selalu berusaha untuk mengabdi kepada guru, sebab pengabdian itu adalah suatu kemuliaan, janganlah penuntut ilmu mengurangi jam pelajaran. Bahkan bila mampu selalu berusaha mencari ilmu. Apabila tidak mampu maka carilah ilmu yang terpenting saja. Seyogyanya penuntut ilmu selalu membiasakan diskusi bersama teman. Pada saat berdialog dengan guru dengan tujuan mencari manfaatnya pada dasar hukum tersebut, penuntut ilmu selalu mendiskusikan kembali sesuatu yang dijelaskan guru karena diskusi banyak manfaatnya. Sunan Khatib Al-Baghdadi berkata, “Sebaik-baik waktu diskusi adalah diskusi di waktu malam”. Diceritakan bahwa jama’ah Ulama Salaf memulai diskusi (musyawarah) mulai dari waktu Isya’ dan terkadang mereka tidak berhenti sampai akhirnya mendengar adzan subuh. Apabila penuntut ilmu tidak ada teman untuk berdiskusi hendaknya ia mengulang-ngulang pelajarannya sendiri dengan memperdalam apa yang telah didengar sehingga benar-benar tertanam dalam akal pikiran dan hatinya.
7.      Ketika penuntut ilmu hadir di Majlis Ta’lim hendaknya mengucapkan salam yang didengar oleh hadirin, khususnya kepada guru demi penghormatan dan memuliakan. Demikian pula ketika hendak meninggalkan majlis ta’lim maka ia harus mengucapkan salam. Ketika ia mengucap salam dan berjalan maka janganlah ia melangkahi hadirin untuk mendekati guru, tetapi duduklah di tempat dimana ia berada. Kecuali bila diperintahkan oleh gurunya untuk maju (berdiri).
8.      Hendaknya penuntut ilmu bertanya sesuatu yang belum jelas dan minta penjelasan sesuatu yang tidak masuk akal dengan cara yang halus, kata-kata sopan dan adab bertanya. Diceritakan,“Barang siapa takut ketika bertanya maka tampak kurangnya ketika berkumpul dengan orang lain”. Imam Mujahid r.a. berkata,“Tidak belajar orang yang pemalu dan sombong”. Dewi Aisyah r.a. berkata, “Wanita-wanita Anshar itu tidak malu bertanya ketika berbicara tentang masalah agama”.
9.      Hendaknya penuntut ilmu menjaga kesempatan dan janganlah mendahului kesempatan orang lain tanpa izin. Imam Khatib berkata, “Disunnahkan bagi orang yang datang lebih awal untuk maju terlebih dahulu kemudian giliran orang yang datang berikutnya. Demikian pula apabila ada orang datang terakhir, tapi ia tergesa-gesa untuk maju dan tahu ada orang lain yang datang lebih awal maka hendaknya ia minta izin terlebih dahulu kepada orang tersebut atau izin dari gurunya”. Kesempatan untuk menempati tempat di depan, maka yang terdepan itu ditentukan oleh kehadiran seseorang, apabila ia datang terlebih dahulu, maka ia berhak menempati tempat yang dekat dengan guru.
10.  Tempat duduk penuntut ilmu hendaknya di hadapan guru dengan jarak yang pantas -memerhatikan adab sopan santun. Hendaknya kitab yang akan dibaca sudah dalam keadaan siap -ketika membaca hendaknya kita jangan meletakan kitab di tanah——di bawah— tetapi peganglah dengan tangan. Janganlah memulai membaca kecuali setelah mendapat izin dari guru. Janganlah membaca ketika guru dalam keadaan sedih, bosan, marah, atau sedang susah dan lain-lain.
11.  Penuntut ilmu hendaknya berpegang teguh pada suatu kitab dan jangan sampai meninggalkannya. Berpegang pada satu macam ilmu dan jangan sibuk dengan cabang ilmu yang lain sebelum benar-benar yakin dengan yang pertama. Penuntut ilmu hendaknya tetap berada di suatu negara——satu tempat lembaga pendidikan— dan janganlah pindah-pindah ke tempat lain kecuali darurat. Sebab berpindah-pindah tempat itu menyusahkan hati dan menyia-nyiakan waktu. Penuntut ilmu hendaknya tawakkal kepada Allah. Janganlah menyesal dan mengeluh masalah rezeki. Penuntut ilmu jangan berdebat dan bertengkar dengan orang lain karena akan menyebabkan dendam, hasud, dan permusuhan. Hendaknya penuntut ilmu menjauhi orang-orang yang banyak bicara, ahli kemaksiatan, dan ahli kebatilan. Sebab mendekati mereka pasti akan membawa dampak terhadap pribadinya. Dan, hindarilah ghibah.
12.  Penuntut ilmu hendaknya memberi dorongan semangat kepada teman-teman lain dan mengajak serta menunjukan mereka untuk serius mencari ilmu dan mengajak mereka untuk meninggalkan dan memudahkan (membantu) mereka. Mengingatkan mereka untuk selalu mencari sesuatu yang berfaedah dengan menggali hukum-hukum, kaidah-kaidah, dan nasihat-nasihat serta peringatan. Dengan demikian hati akan lebih senang dan ilmunya akan diberkahi serta besar pahalanya. Penuntut ilmu hendaknya memuliakan teman-teman lain dengan mengucapkan salam, menampakan rasa kasih sayang dan penghormatan, serta penuntut ilmu menjaga hak-hak persahabatan. Penuntut ilmu juga hendaknya melupakan kekurangan mereka dan memaafkan kesalahan mereka, menutupi aib mereka, dan lain-lain.

Memahami pemikiran Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari tentang etika, adab dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim, kita dapat menilai bahwa tulisan beliau mengandung pernyataan yang secara dramatik memperlihatkan dobrakan yang sangat radikal tentang etika menuntut ilmu, baik pada diri sendiri, guru, teman, dan lingkungan sebagai perwujudan status kekhalifahan manusia maupun terhadap Allah sebagai status kehambaan manusia. Secara garis besar kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim mengandung pokok-pokok pikiran mendasar sebagai berikut:
1.      Bahwa konsep etika dalam tulisan K.H. Hasyim Asy’ari secara mendetail mempunyai hubungan yang erat dan tak terpisahkan dari pandangan ke-tuhan-an (akidah) sebagai moral dari setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia, pertama-tama ditentukan oleh eksistensi keimanan kepada ke-Esaan Tuhan (monotheisme) dan kepada kebenaran wahyu. Nilai-nilai adab dalam tulisan K.H. Hasyim Asy’ari itu mengandung elemen fundamental yang bersifat Theologies Spiritual dalam arti keberadaannya tidak hanya ditentukan oleh bentuk dan akibat langsung dari perbuatan itu sendiri melainkan juga oleh situasi batin dan motivasi pelakunya.
2.      Bahwa ukuran tertinggi dan evaluasi moral dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim adalah bersumber dari ketentuan-ketentuan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadis serta dalil-dalil aqli. Sebab Al-Qur’an dan Sunnah Nabi merupakan konsep yang komprehensif. Melalui ayat-ayatnya sendiri Al-Qur’an telah dengan tegas menyatakan diri sebagai petunjuk jalan yang mengarahkan pesan-pesan-nya kepada segenap manusia.
3.      Bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam kitab tersebut berisikan tentang nilai moral yang komprehensif dan mengatur hubungan antara penuntut ilmu dengan Tuhan, dengan guru, dan penuntut ilmu dengan lingkungannya. Sehingga terwujud hubungan harmonis baik secara vertikal (dengan Tuhannya) maupun secara horizontal (dengan sesama manusia)
4.      Pada prinsipnya orientasi pemikiran kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim bersumber dari pola pikir sufistik yang rasional (walau terkadang tidak rasional) dan radikal. Secara substansial kalau kita kaji lebih mendalam orientasi pemikiran K.H. Hayim Asy’ari dalam kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim sejalan dengan pemikiran ulama-ulama terdahulu bahkan terkesan kitab beliau sebagai wujud ringkasan sistematik dari pemikiran Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam An-Nawawi dalamMuroqi Al-‘Ubudiyah, dan Imam Al-Zarnuji dalam Ta’lim Al-Muta’allim sekalipun, metodologi pembahasan, kelugasan dan kedalaman isinya disajikan lebih tertib berdasarkan urutan yang lebih sistematik. Menurut Ishom Hadziq, kitab Adab Al-Alim wa Al-Muta’allim merupakan adaptasi dari karya Ibnu Jama’ah Alkinani yang bertajuk Tadzkirât Al Samî’ wa Al-Mutakallim.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar