بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kamis, 21 Maret 2013

Ka’bah Di Tahun Gajah

Jika suatu kisah disebut dalam Al-Qur’an berarti kisah itu mempunyai arti dan nilai yang sangat besar. Ada suatu peristiwa besar yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an, yaitu peristiwa penyerangan tentara gajah ke Makkah. Peristiwa yang telah diabadikan Allah dalam surat Al-fill ini terjadi pada abad keenam atau sekitar tahun 570M. Pada saat itu negara Yaman dikuasai oleh seorang raja Kristen dari Habasyah bernama Negus yang berhasil mengusir bangsa Yahudi dari negeri itu. Lalu mengangkat Abrahah Ashram sebagai seorang gubernur di negeri Yaman.
Tidak berjauhan dari negeri Yaman, ada sebuah kota tua bersejarah, yiaitu Makkah. Di sana terdapat sebuah Baitullah (rumah Allah), Ka’bah namanya, rumah yang didirikan oleh nabi Ibrahim as dan dan puteranya Ismail as beberapa abad silam. Seluruh ummat manusia dari berbagai bangsa dan negeri datang setiap tahun berkumpul menunaikan haji ke tempat itu. Tidak sedikit pula dari penduduk Yaman sendiri datang ke sana berkumpul dan berhaji menurut adat dan cara mereka pada masa itu.

Dengan kumpulnya ummat manusia di Makkah yang begitu banyak setiap tahun, maka kota Makkah menjadi ramai dan bangsa Quraisy sebagai penguasa Baitullah (Ka’bah) semakin terhormat dan mendapat kedudukan yang layak pula. Lalu timbul hasud dan niat busuk di hati Abrahah untuk membelokkan ummat manusia agar jangan datang ke Makkah, tetapi hendaknya datang ke Yaman untuk menunaikan haji itu. Ia berniat ingin memindahkan Ka’bah ke Yaman sebagai pengganti Ka’bah di Makkah.
Niat itu segera dilaksanakannya. Lalu dia membangun sebuah gereja besar di kota San’a, ibukota negeri Yaman yang diberi nama gereja Al-Qulais. Gereja besar itu dibuatnya dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan dihiasi dengan berbagai macam ukiran antik, dan dipenuhi dengan benda benda berharga. Setelah selesai pembangunan gereja ia mengundang semua ummat manusia menunaikan haji ke sana. Tentu dengan cara demikian ia bisa menarik orang-orang untuk memeluk agama Nasrani dan kehadiran manusia yang banyak itu akan menambah kemakmuran negerinya. 
Kehadiran gereja itu cukup mengundang kemarahan bangsa Arab. Mulailah terjadi pembekotan, tidak seorangpun di antara bangsa Arab yang mau menunaikan haji ke Yaman, sekalipun sudah dianjurkan dan diperintahkan oleh Abrahah. Hati hati mereka sudah tertancap di Ka’bah, sekalipun bentuk Ka’bah tidak begitu menarik, bahkan tidak diukir oleh ukiran-ukiran antik dan tidak pula dihiasi dengan perhiasan-perhiasan yang mewah. Ini karena janji Allah kepada nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as ketika meletakkan batu pertama di Ka’bah. Pada saat itu nabi Ibrahim berdoa:
فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya, Allah, Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” Ibrahim 37
Dari kemarahan bangsa Arab timbul isu isu yang mana seorang laki-laki dari suku Kinanah membuang hajat di dalam gereja. Tatkala Abrahah mengetahui hal itu, ia marah besar dan bersumpah akan memimpin seluruh tentaranya berangkat menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia berharap pula jika Ka’bah sudah diruntuhkan, terpaksa semua bangsa Arab akan datang ke Yaman, ke gereja besar yang sudah disediakannya sebagai pengganti Ka’bah. Abrahah lalu mempersiapkan tentera yang besar jumlahnya dengan berkenderaan gajah. Pasukan ini lalu berangkat menuju ke kota Makkah untuk meruntuhkan Ka’bah.
Mendengar berita ini, berita Abrahan akan datang dengan tenteranya yang berkenderaan gajah untuk meruntuhkan Ka’bah, rumah suci yang mereka hormati, mereka bersiap untuk mempertahankannya dengan segala kekuatan yang ada pada mereka. Tetapi mustahil mereka bisa melawanya karena tentara Abrahah sangat besar jumlahnya. Mereka sadar bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melawannya, kemudian mereka semuanya terpaksa pasrah dan menyerah.
Tetkala Abrahah tiba di Al-Mughamas, daerah dekat Thaif, ia mengutus seorang laki-laki dari Habasyah yang bernama Al-Aswad bin Maqshud untuk segera berangkat ke Makkah. setibanya di kota Makkah ia menggiring harta penduduk bangsa Quraisy dan lainnya. Diantara harta yang dirampasnya ada 200 ekor unta milik kakek Nabi saw, Abdul Muthalib bin Hasyim yang pada saat itu ia sebagai pemimpin dan pembesar kaum Quraisy. Mereka semua tidak bisa melawanya dan tidak bisa berbuat apa apa.
Sebelum memasuki kota Makkah, Abrahah memerintahkan pasukannya untuk berhenti duhulu. Lalu ia mengutus Hunathah Al-Himyari ke Makkah untuk membawa surat seruan terhadap penduduk Makkah. Dalam surat itu penduduk Makkah diperintahkan tunduk dan mengalah dan membiarkan pasukannya masuk meruntuhkan Ka’bah, dan pula keinginannya ingin bertemu dengan ketua dan sesepuh kota Makkah.

Abdul Muthalib Bin Hasyim datang menemui utusan sebagai pemimpin rakyat Quraisy dan orang yang bertanggungjawab terhadap Ka’bah. Utusan itu segera berkata kepadanya: “Abrahah berpesan kepada tuan bahawa ia bukan datang untuk memerangi bangsa Quraisy, tetapi hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Kalau tuan dan bangsa Quraisy tidak menghalangi maksudnya, maka tidak akan terjadi pertumpahan darah dan Abrahah berpesan supaya tuan datang menemuinya”.  Abdul Muthalib menjawab: “Demi Allah, kami tidak akan memerangi kamu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk berperang”.  “Kalau begitu mari kita menghadap Abrahah”,  kata utusan itu mengajak Abdul Muthalib.
Utusan itu berangkat bersama sama Abdul Muthalib dan beberapa pemuka Quraisy menuju perkemahan tentera Abrahah untuk bertemu dengan Abrahah. Setibanya di kemah, Abrahah terharu melihat ketampanan rupa Abdul Muthalib dan kewibawaanya. Ia lalu bangun dari singgasananya dan tidak dipersilahkannya untuk dukuk di bawah dan ia memutuskan untuk turun ke bawah dan duduk di sampingnya di tikar permadani. Ia memperlakukan Abdul Muthalib sebagai tamu terhormat.
Lalu Abrahah berkata: “Katakanlah kepadaku, apa keperluan tuan?”. Abdul Muthalib mejawab: “Keperluanku hanya agar kamu mengembalikan kepadaku 200 unta yang kau rampas dariku”.  Mendengar permintaan itu, Abrahah menjadi heran dan berkata: “Kami datang untuk mehancurkan Ka’bah, sekarang kenapa tuan hanya membicarakan tentang 200 ekor unta yang kami rampas, dan tuan lupakan agama dan Ka’bah yang tuan puja?”. Dengan tangkas Abdul Muthalib menjawab: “Saya ini hanya pemilik unta, sedangkan Ka’bah itu ada Pemiliknya dan Dia sendiri yang akan menjaga dan memeliharanya.”.  Lalu Abrahah berkata: “Kalau begitu tuan tidak akan menghalangi niat kami?”. Abdul Muthalib menjawab: “Itu adalah urusan kamu dengan Pemilik Ka’bah”. Maka untuk menyenangkan hati Abdul Muthalib, semua unta yang dirampasnya dikembalikan kepadanya.
Hari mulai malam dan gelap-gulita. Di malam itulah tentera Abrahah akan memasuki kota Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Keadaan penduduk kota Makkah mulai panik, Abdul Muthalib kembali ke Makkah dan dilihatnya semua penduduk Makkah besar-kecil, laki-laki perempuan sibuk bersiap siap semuanya untuk mengungsi, Mereka membawa semua barang dan ternak mereka, ingin menghindarkan diri dari bahaya yang mungkin akan menimpah mereka.  Lalu Abdul Muthalib dan beberapa masyarakat Quraisy pergi menuju Ka’bah. Mereka semua berdoa kepada Allah sambil memegang pintu Ka’bah agar Dia menurunkan pertolongnanNya dan menghalangi Abrahah dan pasukanya. Abdul Muthalib menangis sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi dirinya dan hewannya, maka lindungilah rumah-Mu. Janganlah Engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatan-Mu esok hari”.

Setelah mereka masing-masing mencium Hajar Aswad serta berdoa agar Allah memelihara Ka’bah dari bencana tentera Abrahah, mereka meninggalkan Ka’bah menuju ke atas sebuah bukit, untuk menyaksikan kejadian selanjutnya. Di pagi harinya kota Makkah sunyi senyap dari penduduk dan tentera Abrahah mulai bergerak untuk memasuki kota Makkah. Tetkala Abrahah mengarahkan gajahnya ke Makkah, gajahnya tidak mau berdiri walaupun dipukuli tapi tetap tidak mau berdiri. Lalu Abrahah mencoba mengarahkan gajahnya ke arah Yaman, gajahnya berdiri dan berlari. Lalu diarahkan gajahnya ke Syam, gajahnya melakukan hal yang sama dan demikian seterusnya.
Tiba-tiba Allah mengutus burung burung laut yang bernama Ababil. Setiap seekor burung membawa 3 buah batu kecil sebesar kacang Arab atau kacang adas, satu di paruhnya dan dua di kakinya. Batu-batu itu dijatuhkan kepada pasukan bergajah. Subhanallah, hasilnya sangat ajaib, bukan hanya luka parah tetapi pasukan Abrahah dan gajah-gajahnya menjadi hancur lebur, daging dan tulang mereka coplok berceceran di atas tanah, tidak seorang pun yang terluput dari bahaya maut, semuanya habis binasa. Melihat kejadian yang luar biasa itu, Abrahah mulai takut, lalu kembali melarikan diri, pulang menuju San’a. Ia terkena sebuah batu dan tubuhnya yang tersisa tinggal sebesar anak burung. Ia mati di Sana’ karena luka yang dideritanya dalam perang ajaib itu.
Sunguh peristiwa pasukan gajah ini telah membawa bukti besar atas kekuasaan Allah dan membawa dampak yang besar terhadap Quraisy dan kedudukanya. Seperti juga peristiwa ini mengangkat kedudukan Abdul Muthalib martabatnya di kalangan masyarakat Arab. Karena ia telah melakukan sesuatu hal dengan penuh kecerdasan dan strategi yang indah dan menyelamatkan kaumya dari bencana yang besar. Begitulah caranya membela agama Allah bukan dengan kekerasan atau emosi yang tidak terkendalikan
Kejadian hebat itu, menjadi tahun sejarah pertama bagi seluruh bangsa Arab dan di tahun itu pula lahir seorang manusia suci Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim di kota Makkah. Dengan lahirnya Rasulallah saw, Ka’bah akan tetap menjadi rumah suci dengan arti yang sebenarnya sampai sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Ke sanalah ummat Islam dari berbagai negeri, dari berbagai bangsa dan warna kulit berkumpul setiap tahun, untuk menunaikan ibadat haji seperti yang diperintahkan Allah. Dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, kota kesayangan Nabi, Makkah,  tidak pernah tidur dikunjungi ummat manusia dari segala penjuru yang jumlahnya lebih banyak dari pengunjung kota Patikan, Washington, London, ataupun Paris.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ ٱلْفِيلِ * أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ * وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ * تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ * فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولِ
                                                           
”Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). Al-Fil: 1-5

Masa Adam & Ibrahim as

Ka’bah Dan Nabi Adam as  

Setelah penciptaan Adam as dan penurunanya dari surga ke muka bumi yang mana kisah ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an, pertama tama yang dilakukan Adam sesampainya di bumi, adalah merenofasi Baitullah yang telah dibangun oleh para malaikat. Adam adalah manusia pertama yang melakukan shalat dan thawaf di sana. Hal ini dilakukan terus-menerus oleh Adam as hingga ia wafat. Setelah wafatnya Adam as, yang memakmurkan dan membangun Baitullah atau Ka’bah adalah Nabi Syits, anak laki-laki Nabi Adam. Bangunan ketika itu terdiri dari tanah dan batu, dan bangunan tersebut dapat bertahan sampai Nabi Nuh as. Ketika topan dan tsunami besar melanda pada masa Nabi Nuh as, Ka’bah pun roboh dan hancur, yang tersisa hanya fondasi dasarnya. Hal itu terjadi sampai pada generasi ketiga dan menurut ahli sejarah, tidak dijumpai keterangan di dalam Alquran dan hadits-hadits Shahih.
Ka’bah Dan Nabi Ibrahim as
Adapun generasi berikutnya yang merenofasi Ka’bah adalah Nabi Ibrahim as dan putranya Ismail as. Setelah Nabi Ibrahim as meninggalkan istrinya Hajar dan puteranya di Makkah, dia pernah berkunjung untuk mengetahui keadaan mereka. Saat Ismail mulai dewasa, Ibrahim sering menjenguknya dari Palestina. Suatu hari, Nabi Ismail diajak berdialog oleh Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya Allah telah menyuruhku untuk melakukan sebuah pekerjaan”. Ismail kemudian menyahut dengan kalimat, “Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan Allah”.  “Apakah engkau mau membantunya?” tanya Nabi Ibrahim. Ismail menjawab, “Aku siap untuk membantu”.  “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk membangun rumah di sini”,  tutur Ibrahim sambil menunjuk ke arah sebuah lemab yang kini menjadi Masjidil Haram.
Dikisahkan oleh Imam Thabari, Nabi Ibrahim as telah dibantu malaikat Jibril di saat merenofasi Ka’bah. Ibrahim as bertanya kepada Jibril, “Apakah di tempat ini aku diperintahkan membangun rumah Allah itu?”. Kemudian Jibril menjawab, “Benar di tempat itu!”. Setelah itu, fondasi yang pernah dibangun Nabi Adam as yang merupakan petunjuk Allah lewat malaikat-Nya kembali ditemukan Nabi Ibrahim setelah berabad-abad lamanya tidak terpelihara, bahkan telah menjadi tandus dan tidak ada tanda-tanda kewujudan Ka’bah. Nabi Ibrahim as dan Ismail as akhirnya membangun sebuah rumah di atas fondasi tersebut. Tetkala dinding Ka’bah mulai tinggi, Nabi Ibrahim as mengambil batu (yang sekarang terkenal dengan nama Maqam Ibrahim), lalu meletakanya dan ia berdiri di atas batu tersebut untuk memasang batu di bagian atas, dan Ismail as memberikan batu dari bawah.
Ketika Nabi Ibrahim dan Ismail as sampai pada penyelesaian akhir dari sudut (rukun) bangunan Baitullah, dan hanya tinggal satu sudut atau rukun lagi belum tertutup, Nabi Ibrahim kemudian berkata: “Wahai anakku, ambillah satu batu yang memberikan daya tarik bagi manusia”. Kemudian Ismail memberikan sebuah batu. Ibrahim berkata “Bukan batu seperti itu yang aku maksud”.  Ismail pun mencari lagi batu-batu yang istimewa seperti yang dipinta ayahnya. Saat Ismail sudah membawa batu temuannya, ternyata Nabi Ibrahim as sudah menempelkan di bagian sudut atau rukun itu sebuah batu yang datang dari surga. Ismail as bertanya kepada ayahnya: “Wahai ayahku, siapakah gerangan memberikan batu itu kepadamu?”.  Ibrahim kemudian menjawab, “Telah datang kepadaku Malaikat dari langit memberikan batu itu dari surga”.  Batu itulah kemudian dikenal dengan Hajar Aswad yang posisinya tepat di sudut (rukun) dekat pintu Ka’bah. Begitu selesai, Nabi Ibrahim as berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

”Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’ (al-baqarah: 127)
Kemudian Nabi Ibrahim as  membuat pintu Ka’bah sejajar dengan tanah dan tidak dibuatkan daun pintunya. Pintu Ka’bah baru dibuat oleh Tuba Al-Humairi, seorang penguasa dari Yaman, dan pintunya ditinggikan dari tanah. Selain bangunan kotak Ka’bah yang berbentuk kubus, telah dibentuk pula batu melingkar yang tidak ada rukun-nya atau sisinya. Batu melingkar inilah yang disebut Hijir Ismail. Ada yang meriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim as membangun Baitullah ini dalam usianya yang ke-100 tahun. Wallahu a’lam.

Masa Malaikah

 
Ka’bah merupakan tempat termulia dan pusat ibadah bagi umat manusia. Entah pada saat zaman jahiliyah sebelum datang Islam atau setelah datangnya Islam Ka’bah adalah Baitullah Al-Haram, rumah suci bagi mereka. Sepanjang sejarah Islam, Ka’bah terpelihara kesuciaan dan kehormataannya dan tetap menjadi pusat perhatian para khadim atau pengurusnya.

Ka’bah dalam bahasa Arab artinya kubus atau segi empat diambil dari kata ka’aba atau muka’ab. Banyak riwayat atau sirah yang mengungkapkan tentang hal ini,  seperti yang diriwatkan Al-Azraqi dari Abu Nujaih atau Ikrimah dan Mujahid semua mereka berpendapat bahwa dinamakan Ka’bah karena bentuknya segi empat seperti kubus. Walaupun yang sebenarnya ia bukan bangunan empat persegi yang memiliki panjang dan lebar yang sama. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad panjangnya 11,52 meter, dari Hajar Aswad ke Rukun Iraqi 12,84 meter, dari Rukun Iraqi ke Rukun Syami atau sisi Hijir Ismail 11,28 meter, dan dari Rukun Syami ke Rukun Yamani 13,16 meter.
Ka’bah adalah baitullah al-haram atau rumah suci yang letaknya di poros atau di tengah masjid. Tepatnya, Ka’bah berada di pusat masjidil Haram. Allah berfirman dalam Al-Qur’an dalam surat al-Ma’idah:97

جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَاماً لِّلنَّاسِ

”Allah telah mejadikan Ka’bah rumah suci itu sebagai pusat (peribadahan) manusia”
Ka’bah adalah rumah ibadah pertama bagi manusia yang dibangun di muka bumi, hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Imron ayat 96:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ


” Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”
Ayat ini diterangkan oleh para ulama sebagai bantahan Allah kepada ahli kitab yang mengatakan bahwa awal mula rumah ibadah yang diciptakan Allah adalah Baitul Maqdis di palestina. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abi Dzar, Rasulullah saw menyatakan bahwa perbedaan waktu antara dibangunnya Baitullah di Mekah dengan Baitul Maqdis di Yerusalem adalah empat puluh tahun. Jelasnya, bahwa baitullah di Makkah sudah lebih dulu dibangun 40 tahun sebelum Baitul Maqdis.
Ayat di atas juga menjadi hujjah atau alasan bagi para ulama yang berpendapat bahwa pertama makhluk yang mendirikan Ka’bah adalah para malaikat, bukan manusia. Buktinya, ayat di atas mengunggunakan kalimat ” Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia”. Kata kata ”untuk (tempat ibadah) manusia” kita perlu garisbawahi, ini artinya Ka’bah sudah ada sebelum manusia diciptakan Allah atau sebelum Adam as, datok manusia, diciptakan-Nya, Ka’bah telah dibangun Allah untuk tempat ibadah manusia. Berarti sangat jelas bahwa yang membangun Ka’bah pertama kali bukanlah manusia, melainkan para malaikat atas perintah Allah. Di lain tempat atau di surat al-Baqarah:127, Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


”Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo’a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
Dari ayat di atas, sepintas lalu kita memahami bahwa nabi Ibrahim as adalah orang yang pertama membangun Ka’bah di permukaan bumi ini. Padahal kalau kita teliti, sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Makkah, Ka’bah sudah ada dan sudah dibangun oleh malaikat. Hal itu bisa dipahami dari kata “Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail”. Yang dimaksud meninggikan berarti meninggikan bangunan yang sudah ada bukan membangun. Jadi jelas bahwa generasi pertama yang membagun Ka’bah adalah para Malaikat, sebelum Nabi Adam diciptakan tentu atas perintah Allah.

Al-kisah, langit dan bumi bergemuruh karena terjadi desas desus bahwa Allah berkehendak menciptakan makhlukNya yang bernama Adam as, kakek moyang manusia yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Ketika para malaikat mengetahui bahwa Allah akan menciptakan Adam, manusia pertama yang diciptakan dari tanah dengan tangan Nya, dan diberikan kepadanya segala macam kesempurnaan dari mulai ruh, jasad, darah, daging, syahwat, kekuatan, dihiasi dengan akal, dan diberikan kepadanya ilmu yang tidak diberikan kepada para malaikat “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama nama seluruhnya”, para malaikat pun heran dengan kehendak Allah. Mereka tidak iri atau hasut, akan tetapi ingin mengetahui apa hikmahnya Allah ingin menciptakan manusia yang akan merusak dan menumpahkan darah di muka bumi? Mereka bertanya kepada Allah “Mengapa Engkau hendak menjadikan di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau”. Allah pun langsung berseru: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui” – al-Baqarah: 30 ( Lihat Shafwah At-Tafasir oleh Muhammad Ali As-Shabuni)

Karena takut akan murka Allah Swt., para malaikat tidak bertanya lagi siapa yang layak dijadikan khalifah di bumi, manusia atau malaikat, maka para malaikat segera mohon ampun kepada Allah. Karena Arsy Allah cukup besar, maka dengan seizin-Nya Dia membangun Baitul Makmur di bawah Arsy untuk tempat para malaikat memohon ampun dan mengerjakan tawaf setiap hari. Di sana para malaikat mengerjakan tawaf silih berganti siang dan malam. Baitul Ma’mur tidak pernah kosong dikunjungi oleh para Malaikat sehingga tidak kurang dari 7000 malaikat yang mengelilingi Baitul Makmur setiap harinya, bahkan menurut riwayat ada di antara malaikat yang hanya dapat thawaf sekali saja, dan tidak dapat lagi mengelilingi tawafnya karena sesaknya Baitul Makmur yang dibangun oleh Allah dari Zabarjad yaitu batu permata seperti zamrut dan yang bertahtakan Yakut berwarna merah itu (lihat kitab Akhbar Makkah oleh Al-Azraqi).

Kemudian Allah segera memerintahkan para malaikat untuk membangun Ka’bah di bumi yang persis bentuknya seperti Baitul Makmur di bawah Arsy, besar dan ukurannya sama, posisinya berada tepat sejajar dengan Baitul Makmur yang berada di ‘Arsy. Bahkan, Imam Al-Azraqi meriwatkan bahwa  jika Baitul Makmur yang berada di Arsy (tempat para malaikat berthawah) runtuh maka akan jatuh tepat ke Baitullah yang berada di Mekah. Atau dalam arti kasarnya andaikata dijatuhkan sebuah batu dari Baitul Makmur ke bawah maka akan sampai batu itu tapat ke tengah-tengah Ka’bah. Subahnallah.

Makkah Kota Ibadah

Makkah adalah kota suci karena memiliki keutamaan dari kota lainya diantaranya sholat satu raka’at di Makkah sama pahalanya dengan 100 ribu raka’at di tempat lainya. Kalau Allah memberikan kelebihan bagi hambaNya dalam beribadah pada waktu malam malam terakhir (Lailatul Qadar) di bulan Ramadhan, pahalanya dilipatgandakan dengan 1000 bulan dibanding dengan beribadah di bulan lainya, begitu pula Allah telah memberikan keutamaan beribadah di tempat kota Makkah sama dengan 100 ribu kali lipat ganda pahalanya jika beribadah di tempat lainya. Cukup itu sebagai bukti yang menunjukan bahwa kota Makkah merupakan kota suci yang dicintai Allah dan Rasulnya.
Imam besar Bukhari meriwayatkan dalam hadistnya dari Jabir bin Abdullah ra sesungguhnya Rasulallah saw bersabda: ” Satu Sholat di masjidku lebih utama dari 1000 sholat di masjid lainnya kecuali di Masjidil haram, satu sholat di masjidil Haram lebih utama dari 100.000 shalat di masjid lainnya.”
 
Sekarang, mari kita kalkulasi berdasarkan hadisth di atas. Jika satu shalat di masjidil Haram mempunyai kedukudukan lebih baik dari 100.000 shalat di masjid lainya, ini berarti satu shalat di Makkah pahalanya melebihi dari 55 tahun sholat di masjid lainya. Jika kita shalat lima waktu sehari semalam di Makkah pahalanya melebihi dari 277 tahun shalat di masjid lainya. Coba bayangkan betapa mulianya masjid tersebut dan siapa gerangan diantara kita yang tidak tergiur untuk shalat lima waktu sehari semalam apalagi kalau shalat itu dilakukan secara berjama’ah?. Bayangkan berapa pahala yang kita dapatkan hanya sekedar shalat lima waktu sehari semalam berjama’ah di masjiduil Haram?
Dari uraian di atas kita bisa mengambil istimbath atau kesimpulan, bahwa bukan hanya sholat saja yang dilipat-gandakan pahalanya menjadi 100.000 kali, tapi para ulama telah mengkiyaskan bahwa semua amalan lainnya juga bisa dilipat-gandakan menjadi 100 ribu kali, seperti puasa, shodakah, dan semua amalan baik lainnya bisa memberikan isyarat adanya kelipatan pahala, hal ini dikiyaskan dengan shalat.

Jelasnya, dari hadits di atas para ulama banyak yang mengupas bahwa berpuasa sehari di Makkah sama pahalanya dengan berpuasa 100.000 kali di tempat lainya, bershodakah satu dirham di Makkah sama pahalanya dengan bershodakah 100.000 dirham di tempat lainya, dan semua kebajikan yang dilakukan di Makkah bisa dilipat-gandakan pahalanya dengan 100.000 kali.
Tapi tunggu dulu, bukan kebaikan saja yang dilipat-gandakan menjadi 100 ribu kebaikan tapi sebaliknya setiap satu dosa yang dilakukan di Makkah juga dilipat-gandakan menjadi 100.000 dosa. Maka dari itu kita harus waspada agar tidak melakukan amalan buruk yang tidak diridhoi Allah dan menghidari diri dari perbuatan maksiat di Makkah. Hal ini dikiyaskan oleh para ulama dengan shalat.
Pernah sekali Imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang dosa yang jika dilakukan seseorang akan ditulis berlipat-ganda. Beliau menjawab ”Tidak ada, kecuali jika dosa itu dilakukan di Makkah, karena kesucian kota ini”. Dan masih banyak lagi para ulama yang mengatakan hal yang sama. Dan ada hadith yang diriwayatkan imam Ahmad dari Ibnu Masud ra berkata ”Jika seseorang berkehendak ingin membunuh seseorang yang bermukim di Haram dan si pembunuh masih berada di Aden, maka Allah akan mengirimkan kepada si pembunuh mala petaka dan azab yang pedih”

Makkah Kota Aman


Setiap kita menyebut Makkah pasti ada embelanya atau julukanya yaitu Mukarramah. Dalam bahasa Arab Mukkaram artinya mulia, luhur atau tinggi. Yang dimaksud mulia, luhur atau tinggi di sini ialah derajatnya. Sekarang kenapa kota ini bisa mulia dan luhur derajatnya di sisi Allah dan RasulNya? Karena Allah telah memilihnya sebagai kota yang aman semenjak diciptakan langit dan Bumi. Maksudnya bila seseorang merasa ketakutan atau gelisah, kemudian ia memasukinya, maka ia akan merasa aman dan tentram dari segala keburukan dan ganguan fitnah.
Kalau kita memasuki kota kesayangan Nabi, Makkah, baik untuk Umrah atau Haji, kita akan merasakan aman, tentram dan thuma’ninah. Allah berfirman dalam surat al-’imrah: 97

فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا


”Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia”
Yang dimaksudkan dengan aman disini bukan aman bagi manusia saja, tapi bagi hewannya seperti burung burung, pepohonan dan tumbuh tumbuhan yang tumbuh di Makkah akan merasakan yang sama karena Allah melarang untuk membunuh atau mengusir hewannya dan memotong pepohonannya.
Ada kisah menarik yang berkaitan dengan ayat di atas. Tafsir ibnu Kastir mengisahkan bahwa pernah terjadi pada zaman Jahiliyah atau zaman sebelum datangnya Islam, seorang laki laki membunuh seseorang, lalu ia lari dan memasuki kota Makkah. Keluarga yang dibunuh menyarinya sampai ia menemukanya di kota Haram. Dari kemuliaan kota itu si pembunuh tidak diganggu atau dituntut sama sekali sehingga ia keluar dari kota Haram. Itu dari salah satu kemuliaan kota Makkah.
Di lain fihak telah disepakati oleh para ulama bahwa siapa yang berbuat suatu keburukan di tanah haram baik membunuh seseorang atau menganiyayanya, maka ia tidak akan mendapatkan rasa aman karena ia telah merusak kehormatan tanah haram. Adapun bila seseorang berbuat suatu keburukan di luar Makkah kemudian ia lari ke tanah Haram untuk berlindung maka bagi setiap orang yang bermukim di Makkah harus membekotnya atau mengusirnya sehingga si pelaku keluar dari tanah Haram lalu dilaksanakan hukum yang setimpal baginya.

Ibnu Abbas ra telah meriwayatkan bahwa barang siapa melakukan suatu kejahatan kemudian ia lari ke Haram untuk berlindung maka dia akan aman dan tidak dibenarkan untuk dihukum, sehingga ia keluar dari tanah Haram dan pada saat itu dibolehkan untuk dihukum (Ibnu Aljauzi).

Kenapa Makkah Disebut Kota Suci


       
         
Kalau menyebut Al-Haram atau kota suci bagi umat Islam kita lazim menisbatkan kepada tiga kota suci di dunia yaitu Mekah, Madinah dan al-Qudus. Umat Islam apapun madzhabnya, apapun golongan dan tharikatnya mengakui kesucian ketiga kota tersebut.
Sekarang, Mengapa tiga kota itu disebut kota-kota suci? Sudah pasti jawaban yang pas untuk pertanyaan di atas adalah karena di Mekah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjid Nabawi, dan di Yerusalem ada Masjid al-Aqsha. Jadi kesucian ketiga kota tersebut adalah karena adanya masjid-masjid itu.
Kalau pertanyaannya kita lanjutkan lagi, mengapa dengan adanya masjid-masjid itu kota-kota tersebut menjadi suci? Jawaban yang tepat adalah karena ketiga masjid tersebut terkait erat dengan perjuangan dan dakwah seorang manusia suci dalam menyebarkan agama yang suci. Siapa gerangan manausia suci itu? Dia adalah Muhammad putera Abdullah dan Aminah. Dia adalah Rasulallah saw. Adapun agama suci yang dibawanya adalah Islam.
Jelasnya, tanpa diakitkan dengan Rasulullah saw, manusia tersuci itu, mustahil masjid-masjid itu dikenal sebagai masjid suci, dan mustahil pula ketiga kota itu menjadi kota-kota suci yang menjadi tempat tujuan ziarah kaum Muslimin dari seluruh jagat dunia.
Pertama mari kita menelusuri kota tersuci yang yang dicitai Allah dan Nabi-Nya, Makkah. Kenapa bisa demikian? Karena Makkah merupakan kiblat muslimin, tidak sah sholat seorang muslim jika tidak menghadap ke arahnya. Di sana ada Ka’bah yang didirikan oleh nabi Ibrahim as bersama puteranya Ismail as. Ka’bah telah dikukuhkan sebagai tempat suci haram yang dimuliakan. Ia dimulaikan bukan dari sejak didirikanya tapi sejak langit dan bumi diciptakan ia telah menjadi tempat pertama ibadah bagi manusia di muka bumi.

Hijir Ismai

4- Hijir Ismail
Dulu Hijir Ismail berbentuk lingkaran penuh tetapi pada zaman quraisy terjadilah perbaikan dan terpotong separuh lingkarannya dengan demikian disebut:Hathim yang artinya terpotong. Hijir yaitu tempat dimana Ibarahim as meletakan istrinya Hajar dan putranya Ismail. Ia memerintahkan Hajar untuk membuat bangsal di tempat itu. Ada pula yang meriwayatkan bahwa nabi Ismail as dan ibunya dikubur di Hijir Ismail. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Hijir ismail atau Hathim ini adalah bagian dari kabah (kira-kira 3 meter) oleh sebab itu tidak sah thawaf seseorang jika hanya mengelilingi Ka’bah tapi harus juga mengelilingi Hijir Ismail.
Dulu Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah, makanya saat thawaf diharuskan mengelilinginya. Pada masa Quraisy Ka’bah mengalami perombakan. Setelah dirombak, bangunan asli Ka’bah berobah dengan bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as dan mengalami penyempitan. Penyempitan itu terjadi di daerah Rukun Syami, sehingga membuat Hijir Ismail tidak lagi masuk dalam Ka’bah. Hijir Ismail seolah-olah berada di luar bangunan Ka’bah dan bentuknya seperti yang kita lihat sekarang. Hal ini dikuatkan melalui Hadits Rasulallah saw.  Siti Aisyah ra. pernah bertanya kepada rasulullah saw. mengenai dinding hijir ismail.Apakah ia bagian dari rukun suci ini? Nabi menjawab: “betul”. Kemudian Aisyah bertanya lagi: Mengapa mereka tidak memasukkan sekalian sisanya ke kabah? Nabi menjawab:”sebab kaummu kekurangan dana.” (H.R. Nasa’i)
Pada zaman Abdullah bin Zubair menjadi penguasa Makkah, beliau berkehendak mengembalikan Ka’bah sesuai dengan bentuk yang dibangun oleh Nabi Ibrahim as. Setelah dimusyawaratkan dengan pemuka pemuka Makkah, beliau melakukan hal tersebut, ia menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali. Ia memasukkan hijir Ismail (batu setengah lingkaran yang berada di halaman Ka’bah) ke dalam bangunan Ka’bah, lalu membuat dua pintu Ka’bah yang rata dengan tanah, satu arah timur dan satu arah barat.
Pada kekuasaan Abdul malik bin Marwan, ia memerintahkan Hajjaj bin Yusuf Ats-tsaqafi untuk menutup pintu Ka’bah bagian barat yang dibuat oleh Ibnu Zubair ra dan menghancurkan bangunan tambahan di Hijir Ismail yang masuk ke dalam bangunan Ka’bah. Kemudian Hajjaj menutup pintu Ka’bah bagian barat dan membongkar dinding ke arah Hijir ismail sehingga terpisah dari Ka’bah. Demikianlah bentuk Ka’bah dibiarkan dalam posisi sepeti itu sampai sekarang ini.
Menurut riwayat dari Aisyah ra. bahwasanya beliau berkata:”Aku ingin sekali masuk ke kabah dan sholat didalamnya, lalu rasulullah saw. menarik tanganku dan membawanya ke dalam hijir ismail, sambil berkata:”Sholatlah di dalamnya jika engkau ingin masuk kabah, karena ia merupakan bagian dari Ka’bah”
Setengah lingkaran Hijir Ismail membentang sepanjang 21,57 meter. Garis tengah dari Rukun Hajar Iraqi dan Rukun Syami 11,94 meter, dan dari dinding Ka’bah ke bagian dinding dalam 8,42 meter. Lebar kedua sisi pintunya 2,29 meter, panjang dari pintu ke pintu 8,77 meter. Di dalam Hijir Ismail yang kecil itulah orang berebutan masuk, shalat dan berdoa meminta apa saja sesuai dengan hajat masing-masing. Konon do’a yang paling mustajab di Hijir Ismail dilakukan di bawah talang air.
Sejak terpisahnya dari dari Ka’bah, Hijir Ismail mengalami perbaikan. Dan orang yang pertama kali memperbaiki Hijir Ismail dengan memasang marmer pada pilar Hijir adalah Abu Ja’far Manshur, khalifah Bani Abbasiah, pada tahun 140 H. Demikian seterusnya Hijir Ismail mengalami pembaharuan dari tahun ke tahun sampai sekarang ini.

Kamis, 14 Maret 2013

Ilmu Asbabul Wurud dan Gharibul Hadits

Mengetahui Asbabul Wurud Hadits

Asbabul wurud hadits adalah sebab – sebab datangnya dan terjadinya suatu hadits. Mengetahui Asbabul wurud hadits sangat membantu dalam memahami maksud Rasulullah dalam suatu hadits.

Termasuk cara yang baik dalam memahami Sunnah Nabawiyah adalah meneliti sebab – sebab tertentu datangnya hadits itu, atau hadits itu punya alasan tertentu yang tersurat pada teks hadits atau tersirat dari makna hadits tersebut. Atau juga yang difahami dari kondisi ketika hadits itu diucapkan oleh Rasulullah Sallallahu 'Alahi Wasallam.

Adalah suatu keharusan untuk memahami hadits dengan benar mengetahui situasi dan kondisi yang menyebabkan hadits itu diucapkan oleh Rasulullah. Hadits itu datang sebagai penjelas bagi kejadian – kejadian tersebut dan sebagai terapi bagi situasi dan kondisi dari kejadian waktu itu. Sehingga kita bisa memahami dengan jelas, benar dan cermat maksud dari hadits tersebut.

Itu agar kita tidak salah memahami hadits dengan perkiraan dangkal kita atau hanya karena mengikuti dzahirnya ( lahiriyahnya ) teks hadits.

Contoh :
Hadits :

أنتم أعلم بأمور دنياكم

“ Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” ( HR. Muslim )

Sebagian orang menjadikan hadits ini sebagai alasan untuk lari dari hukum – hukum syariat yang berkaiatan dengan masalah ekonomi, hukum perdata, politik dan yang semisalnya dengan alasan ( sebagaimana anggapan mereka yang salah ), bahwa itu adalah urusan duniawi, kami lebih mengetahui tentang urusan dunia dan Rasulullah telah menyerahkannya kepada kami.

Apakah betul ini yang dimaksud oleh hadits tersebut? Sama sekali tidak. Dalam nash – nash Alqur'an dan as-Sunnah terdapat hal – hal yang mengatur urusan muamalah seperti jual – beli, serikat dagang, gadai, sewa – menyewa, hutang – piutang dan sebagainya.

Bahkan ayat terpanjang dalam Alqur'an turun membahas tentang aturan penulisan hutang – piutang.

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya .. ( al-Baqarah : 282 )

Maka hadits :“ Kalian lebih tahu urusan dunia kalian” ditafsirkan oleh sebab terjadinya hadits tersebut, yaitu kisah penyerbukan pohon kurma atas anjuran Rasulullah. Lalu para Shahabat menjalankan saran Rasulullah tersebut dengan taat, tapi kemudian mereka gagal melakukan penyerbukan dan berakibat buruk pada buah. Kemudian Rasulullah bersabda dengan hadits tersebut.

Contoh lain hadits :

من سن في الإسلام سنة حسنة

“ Barangsiapa melakukan sunnah yang baik dalam Islam…” (HR. Muslim )

Sebagian orang memahami hadits ini dengan salah. Lalu mereka membuat amalan - amalan bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam agama. Mereka beranggapan bahwa mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan itu dan mengklaim bahwa ini adalah sunnah hasanah ( sunah yang baik ) yang masuk dalam makna kandungan hadits tadi.

Akan tetapi kalau kita merujuk kepada sebab terjadinya hadits ini, kita dapatkan sebabnya adalah bahwa suatu hari, Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam memerintahkan para Shahabat beliau untuk bersedekah. Lalu datang seorang pria dengan membawa bungkusan besar yang kedua tangannya hampir tidak mampu untuk membawanya. Lalu dia letakkan di tengah masjid dan kemudian orang – orang ikut berinfaq, sampai muka Rasulullah berseri – seri karena senang, seakan – akan wajah beliau seperti sesuatu yang disepuh dengan emas. Lalu beliaupun mengucapkan hadits tersebut.

Maka mengartikan hadits tersebut dengan perbuatan bid’ah jelas bukan yang dimaksud hadits. Kita jelaskan seperti ini dengan yakin dan tanpa ragu. Bahkan itu suatu kesesatan yang nyata. Sebab ada dan terjadinya hadits yang disebutkan tadi adalah bukti terkuat tentang salah dan bathilnya pengambilan dalil seperti itu.

Ibnu Hamzah ad-Dimasyqi rahimahullah punya kitab “al-Bayan wat Ta’riif Fi Asbaab Wuruudil Hadits as-Syariif dicetak dalam tiga jilid. Kitab ini termasuk yang paling lengkap dalam pembahasan ini.
Wallahu'alam
Mengetahui Gharibul Hadits

Gharibul hadits artinya kata – kata yang asing yang sulit dipahami yang terdapat dalam suatu hadits.
Rasulullah adalah orang yang paling fasih dalam mengucapkan Dhadh.Beliau berbicara dengan para Shahabat dengan bahasa arab yang jelas dan lumrah. Karena para Shahabat adalah orang arab asli yang tidak pernah dipengaruhi orang ‘Ajam ( non arab ), maka mereka tidak mengalami kesulitan dalam memahami kata - kata yang mereka biasa bicarakan.

Akan tetapi dengan berlalunya waktu dan saling berbaurnya manusia,’Ajam dengan Arab, maka bahasa yang dipakai orang arab menjadi lemah, bercampur dengan bahasa ‘Ajam dan semakin jauh dari bahasa arab yang fasih.

Oleh karena itu banyak orang menemukan kesulitan dalam memahami hadits – hadits Nabi karena tidak mengetahui arti kata – kata dalam hadits – hadits tersebut.

Oleh karena sebab inilah para Ulama manyusun karangan tentang Gharibul hadits, Mereka susun kitab untuk menerangkan kata – kata yang sulit difahami dalam suatu hadits beserta penjelasannya.

Jika seorang ahli ilmu, penuntut ilmu syar’i atau seorang muslim secara umum ingin memahami hadits, maka hendaklah ia merujuk kepada kitab – kitab gharibul hadits. Kitab – kitab yang terpenting adalah :

- Gharibul Hadits oleh al-Harawi
- Gharibul Hadits oleh Abu Ishaq al-Harbi
- Gharib as- Shohihain oleh al-Humaidi
- An-Nihayah Fi Gharibil Hadits oleh Ibnul Atsir rahimahumullah jamii’an

Memahami Sunnah Seperti Yang Difahami Shahabat Rasulullah

Kaidah ini termasuk yang paling penting supaya seorang muslim berpegang dengan Sunnah seperti para Salafus Shaleh agar selamat dari penambahan dan pengurangan.

Yang paling utama dalam menafsirkan Sunnah adalah hadits – hadits itu sendiri, kemudian setelah itu atsar dari para Shahabat, karena Shahabat menyaksikan turunnya Alqur'an dan wahyu turun di hadapan mereka. Maka kalau terjadi pemahaman yang salah dari salah satu dari mereka terhadap Sunnah Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam, niscaya Jibril akan turun kepada Rasulullah untuk meluruskan dan mengoreksi kesalahan itu.

Contoh :
Hadits menghadap Qiblat atau membelakanginya ketika buang air besar atau kecil.

Sebelumnya saya telah menjelaskan satu pendapat cara menjamak ( menyatukan ) antara hadits yang tampak bertentangan tersebut. Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah atsar dari Ibnu Umar radiyallahu 'anhu, dimana beliau berkata : “Sesungguhnya yang demikian itu ( yaitu buang air menghadap atau membelakangi qiblat ) terlarang jika di tempat yang terbuka. Jika antara kamu dan qiblat ada penghalang, maka tidak mengapa”.

Hendaklah anda merujuk kitab – kitab yang penyusunnya banyak menukil atsar – atsar para salaf dari para Shahabat dan Tabi’in ketika meriwayatkan hadits, seperti kitab – kitab berikut :

- Mushannaf Abdirrozzaq
- Mushannaf Ibni Abi Syaibah
- Sunan Sa’id ibn Manshur
- Sunan ad-Darimi
- As-Sunan al-Kubra dan as-Shugra oleh Imam Baihaqi rahimahumullah

Merujuk Kitab – Kitab Syarah Hadits

Termasuk hal yang penting dalam memahami hadits – hadits Nabi adalah merujuk kitab – kitab syarah ( penjelas ). Karena di dalamnya terdapat penjelasan tentang gharib hadits, nasikh – mansukh, fiqih hadits dan riwayat – riwayat yang tampaknya bertentangan. Sehingga tidak mungkin seseorang untuk tidak merujuk kepada kitab – kitab ini.

Para ulama hadits telah meninggalkan kekayaan ilmu untuk kita berupa kitab – kitab syarah yang menjelaskan hadits – hadits Nabi Sallallahu 'Alahi Wasallam, sedangkan para ulama itu adalah para penerjemah hadits – hadits Nabi untuk seluruh umat. Dan secara umum, ulama yang lebih dahulu dan lebih dekat kepada masa Rasulullah , maka penjelasannya akan lebih dekat kepada kebenaran dan lebih layak untuk diterima.

Kitab syarah yang paling utama didahulukan setelah memperhatikan yang lebih dahulu zaman penulisnya adalah kitab yang penulisnya memiliki perhatian terhadap dalil – dalil dengan menerangkan jalan periwayatan hadits yang bermacam – macam, dan menerangkan shahih dan dhaifnya dalil tersebut.

Juga harus didahulukan kitab yang penulisnya paling jauh dari fanatisme madzhab, karena bisa saja makna yang benar dari satu hadits dipalingkan kepada makna yang lain tanpa alasan yang benar.

Di antara contoh kitab – kitab syarah hadits terdahulu dan menjadi pijakan, yaitu :

- Syarhus Sunnah oleh Imam al-Baghawi
- Fathul Baari oleh Ibnu Rajab al-Hanbali
- Fathul Baari Syarh Shahih al-Bukhari oleh Ibnu Hajar al-Asqolani, dan lain – lain.

Wallahu A’lam.

( Abu Maryam, diambil dari kitab Dhawabit Muhimmah Lihusni Fahmis Sunnah oleh Dr. Anis ibn Ahmad ibn Thahir (terj)

Devinisi Ilmu Asbab Wurudil Hadis




Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa  yang telah melimpahkan rahmat dan kasihnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Sholawat serta salam kami sanjungkan ke pangkuan Nabi Muhammad SAW yang selalu kita nantikan syafaatnya.
Makalah ini disusun dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Ulumul Hadis yang berjudul “Ilmu Asbab Wurudil Hadis” dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai ilmu Asbab Wurudil Hadis dalam pembahasan Ulumul Hadis.
Kami haturkan terimakasih kepada kedua orangtua yang senantiasa memberi dukungan moril maupun materiil, kepada Bapak Khoirul Anwar, S.Ag.,MPd selaku dosen pembimbing mata kuliah Ulumul Hadis, dan tidak lupa teman-teman Tarbiyah B yang senantiasa memberikan dukungan demi terselesaikannya makalah ini.
           Akhir kata, tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah yang kami buat, masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan.  Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Semarang ,   juni 2012
   Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ilmu asbab wurudil hadis merupakan ilmu dalam konteks historisitas, baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang lainnya yang terjadi pada saat hadits tersebut di sabdakan oleh Nabi SAW, dapat berfungsi sebagai acuan analisis dalam menentukan apakah hadits tersebut bersifat khusus, umum, mutlak atau muqoyyad, naskh atau mansukh dan lain sebagainya.
Dengan demikian, ilmu asbab wurudil hadis juga dapat diberi pengertian, “suatu ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang sebab-sebab Nabi Muhammad SAW menuturkan sabdanya dan waktu beliau menuturkan itu”.
Adapun sasaran dalam mempelajari ilmu ini adalah Setiap hadits yang secara tegas mempunyai asbab wurudil hadis.




B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan Ilmu Asbab Wurudil Hadis itu?
2.      Ada berapa macam Ilmu Asbab Wurudil Hadis?
3.      Apakah urgensi dan bagaimana cara mengetahi Asbab Wurudil Hadis?
4.      Apa contoh-contoh Ilmu Asbab Wurudil Hadis?
5.      Kitab apa saja yang berbicara tentang Ilmu Asbab Wurudil Hadis?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Devinisi Ilmu Asbab Wurudil Hadis
Kata asbab adalah ajama` dari sabab. Menurut ahli bahasa diartikan dengan “al-habl” (tali)[1], saluran, yang artinya dijelaskan sebagai “segala yang menghubungkan satu benda dengan benda lainnya”.[2]
Menurut istilah adalah  كل شي ءيتوصل به الى غايته[3] , yang artinya “Segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”
Ada juga yang mendevinisikan dengan “Suatu jalan menuju terbentuknya suatu hukum tanpa adanya pengaruh apapun dalam hukum itu”.[4]
            Sedangkan kata wurud bisa berarti sampai, muncul, dan mengalir seperti
  الماءالذي يورد [5] , yang artinya “Air yang memancar atau air yang mengalir”.
            As-Suyuthi merumuskan pengertian asbab wurudil hadis adalah “sesuatu yang membatasi arti suatu hadis, baik berkaitan dengan arti umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, dinasakhan, dst” atau suatu arti yang dimaksud oleh sebuah hadis saat kemunculannya”.[6]
Hasbi as-sidiqi mendefinisikan ilmu asbab wurudil hadis sebagai berikut, “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW menuturkan firmannya dan masa-masa Nabi SAW menuturkannya” (Imam Malik, dalam kitab Al-jumah: 1/102).
Sebagian ulama berpendapat bahwa pengertian asbab wurudil hadis mirip dengan pengertian asbabul nuzul, yaitu “Sesuatu baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang terjadi pada waktu hadits itu di firmankan oleh Nabi SAW”.(Al-bukhori kitab mawakit as-sholah: 1/346).
B.     Macam-Macam Asbab Wurudil Hadis
Menurut Imam  As-Suyuthi asbab wurudil hadis itu dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:
1)      Sebab yang berupa ayat al-Qur’an.
Artinya di sini ayat al-Qur’an itu menjadi penyebab Nabi SAW mengeluarkan sabdanya.
Contoh:
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)
Ketika itu sebagian sahabat memahami kata “azh-zhulmu”  yang berarti berbuat aniaya atau melanggar aturan. Nabi SAW. Kemudian memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud “azh-zhulmu” dalam firman tersebut adalah asy-syirku yakni perbuatan syirik, sebagaimana yang disebutkan  dalam QS.Al-Luqman:13
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Al-Luqman:13)
2)      Sebab yang berupa Hadits itu sendiri
Artinya pada waktu  itu terdapat suatu hadis, namun sebagian sahabat merasa kesulitan memahaminya, maka kemudian muncul hadis lain yang memberikan penjelasan terhadap Hadits tersebut.
Contohnya adalah Hadits yang berbunyi:
إن لله تعالى ملائكة في الأرض ينطق على ألسنة بني أدم بما في المرء من خير أو شر
Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat di bumi, yang dapat berbicara melalui mulut manusia mengenai kebaikan dan keburukan seseorang.” (HR. Hakim)
Dalam memahami Hadits tersebut, ternyata para sahabat merasa kesulitan, maka mereka bertanya: “Ya Rasul !, Bagaimana hal itu dapat terjadi?”. Maka Nabi SAW menjelaskan lewat sabdanya yang lain sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Suatu ketika Nabi SAW bertemu dengan rombongan yang membawa jenazah. Para sahabat kemudian memberikan pujian terhadap jenazah tersebut, seraya berkata: “Jenazah itu baik”. Mendengar pujian tersebut, maka Nabi berkata: “wajabat” (pasti masuk surga) tiga kali. Kemudian Nabi SAW bertemu lagi dengan rombongan yang membawa jenazah lain. Ternyata para sahabat mencelanya, seraya berkata: “Dia itu orang jahat”. Mendengar pernyataan itu, maka Nabi berkata: “wajabat”  (pasti masuk neraka).
Ketika mendengar komentar Nabi SAW yang demikian, maka para sahabat bertanya: “Ya Rasul!, Mengapa terhadap jenazah pertama engkau ikut memuji, sedangkan terhadap jenazah kedua tuan ikut mencelanya? Engkau katakan kepada kedua jenazah tersebut: “wajabat” sampai tiga kali”. Nabi menjawab: “ia benar”. Lalu Nabi berkata kepada Abu Bakar, “wahai Abu Bakar sesungguhnya Allah SWT memiliki para malaikat di bumi. Melalui mulut merekalah, malaikat akan menyatakan tentang kebaikan dan keburukan seseorang”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Dengan demikian, yang dimaksud dengan para malaikat Allah di bumi yang menceritakan tentang kebaikan keburukan seseorang adalah para sahabat atau orang-orang yang mengatakan bahwa jenazah ini baik dan jenzah itu jahat.
3)      Sebab yang berupa sesuatu yang berkaitan dengan para pendengar dikalangan sahabat.[7]
Sebagai contoh adalah persoalan yang berkaitan dengan sahabat Syuraid Bin Suwaid ats-Tsaqafi. Pada waktu Fath makkah (pembukaan kota makkah) beliau pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata: “Saya Bernazar Akan Shalat Dibaitul Maqdis”. Mendengar pernyataan sahabat tersebut, lalu Nabi bersabda: “Shalat Di Sini, yakni masjidil haram itu lebih utama”. Nabi SAW lalu bersabda: “Demi Dzat yang Jiwaku Berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu shalat disini (Masjid Al-Haram Makkah), maka sudah mencukupi bagimu untuk memnuhi nazarmu”. Kemudian Nabi SAW, bersabda lagi: “Shalat Dimasjid Ini, Yaitu Masjid Al-Haram Itu Lebih Lebih Utama Dari Pada 100 000 Kali Shalat Di Selain Masjid Al-Haram”. (H.R. Abdurrazzaq Dalam Kitab Al-Mushannafnya).[8]
C.    Urgensi Asbab Wurudil Hadis dan Cara Mengetahuinya
Ilmu asbab wurudil hadis mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka memahami suatu hadis. Sebab, biasanya hadis yang disampaikan oleh Nabi SAW bersifat kasuistik, cultural, bahkan temporal. Oleh karena itu, memperhatikan konteks historisitas munculnya hadis sangat penting karena paling tidak akan menghindarkan kesalahpahaman dalam menangkap maksud suatu hadis.
Sedemikian rupa sehingga kita tidak terjebak pada teksnya saja, sementara konteksnya kita abaikan atau kita ketepikan sama sekali. Pemahaman hadis yang mengabaikan peranan asbab wurudil hadis akan cenderung bersfat kaku, literalis-skriptualis, bahkan kadang kurang akomodatif terhadap perkembangan zaman.
Urgensi asbab wurudil hadis menurut Imam As-Suyuthi antara lain untuk :
1)      Menentukan adanya takhsish hadis yang bersifat umum.
2)      Membatasi pengertian hadis yang masih mutlak.
3)      Mentafshil (memerinci) hadis yang masih bersifat global.
4)      Menentukan ada atau tidak adanya nash-mansukh dalam suatu hadis.
5)      Menjelaskan ‘illat (sebab-sebab) ditetapkannya suatu hukum.
6)      Menjelaskan maksud suatu hadis yang masih musykil (sulit dapahami)
Sebagai ilustrasi, akan diberikan beberapa contoh mengenai fungsi asbab wurudil hadis, yaitu untuk menentukan adanya takhsish terhadap suatu hadis yang ‘am, misalnya hadis yang berbunyi:
صلاة القاعد على النصف من صلاة القائم
Artinya: “shalat orang yang sambil duduk pahalanya separoh dari orang yang sholat sambil berdiri.” (H.R. Ahmad)
Pengertian “shalat” dalam hadits tersebut masih bersifat umum. Artinya dapat berarti shalat fardhu dan sunnah. Jika ditelusuri melalui asbab wurudnya, maka akan dapat dipahami bahwa yang dimaksud “shalat” dalam hadis itu adalah shalat sunnat, bukan shalat fardhu. Inilah yang dimaksud dengan takhshish, yaitu menentukan kekhususan suatu hadits yang bersifat umum, dengan memperhatikan konteks asbab wurudil hadis.
Asbab wurudil hadis tersebut adalah bahwa ketika itu di Madinah dan penduduknya sedang terjangkit suatu wabah penyakit. Maka kebanyakan para sahabat lalu melakukan shalat sunnah sambil duduk. Pada waktu itu, Nabi SAW kebetulan datang dan tahu bahwa mereka suka melakukan shalat sunnah tersebut sambil duduk. Maka Nabi SAW kemudian bersabda: ”shalat orang yang sambil duduk pahalanya separuh dari orang yang shalat dengan berdiri”. Mendengar pernyataan Nabi SAW tersebut, akhirnya para sahabat yang tidak sakit memilih shalat sunnah sambil berdiri.
Dari penjelasan asbab wurudil hadis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “shalat” dalam hadis itu adalah shalat sunnah. Pengertiannya adalah bahwa bagi orang yang sesungguhnya mampu melakukan shalat sunnah sambil duduk, maka ia akan mendapat pahala separoh dari orang shalat sunnah dengan berdiri.
Dengan demikian, apabila seseorang memang tidak mampu melakukan shalat sambil berdiri mungkin karena sakit, baik shalat fardhu atau shalat sunnah, lalu ia memilih shalat dengan duduk, maka ia tidak termasuk orang yang disebut-sebut dalam hadis tersebut. Maka pahala orang itu tetap penuh bukan separoh, sebab ia termasuk golongan orang yang memang boleh melakukan rukhshah atau keringanan syari’at.
Adapun contoh mengenai asbab wurudil hadis yang berfungsi untuk membatasi pengertian yang mutlak adalah hadis yang berbunyi:
من سن سنة حسنة عمل بها بعده كان له أجره مثل أجورهم من غير أن ينقص من جورهم شيئا و من سن سنة سيئة
 فعمل بها من بعده كان عليه وزره ومثل أوزارهم من غير أن ينقص من أوزارهم شيئا
Artinya: “Barang siapa melakukan suatu sunnah hasanah (tradisi atau perilaku yang baik), lalu sunnah itu diamalkan orang-orang sesudahnya, maka ia akan mendapatkan pahalanya seperti pahala yang mereka lakukan, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Demikian pula sebaliknya, barang siapa yang melakukan suatu sunnah sayyi’ah (tradisi atau perilaku yang buruk) lalu diikuti orang-orang sesudahnya, maka ia akan ikut mendapatkan dosa mereka, tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa yang mereka peroleh.” (H.R. Muslim)
Kata “sunnah” masih bersifat mutlak, artinya belum dijelaskan oleh pengertian tertentu. Ia dapat berarti sunnah hasanah (perilaku yang baik) dan sunnah sayyi’ah (perilaku yang jelek). Sunnah merupakankata yang mutlaq baik yang mempunyai dasar pijakan agama atau tidak.
Asbab wurudil dari hadis tersebut adalah ketika itu Nabi SAW sedang bersama-sama sahabat. Tiba tiba datanglah sekelompok orang yang kelihatan sangat susah dan kumuh. Ternyata mereka adalah orang-orang miskin. Melihat fenomena itu, Nabi SAW wajahnya menjadi merah, karena merasa empati, iba dan kasihan. Beliau lalu memerintahkan kepada sahabat yang bernama bilal agar mengumandangkan adzan dan iqamah untuk melakukan shalat jama’ah. Setelah selesai jama’ah shalat, Nabi SAW kemudian berpidato, yang inti pidatonya adalah menganjurkan agar bertaqwa kepada Allah SWT dan mau menginfaqkan sebagian hartanya untuk sekelompok orang-orang miskin tersebut.
Mendengar anjuran itu, maka salah seorang dari sahabat Anshar lalu keluar membawa satu kantong bahan makanan dan diberikan kepada mereka. Ternyata yang dilakukan oleh Anshar itu kemudian diikuti oleh para sahabat yang lain. Maka kemudian Nabi SAW bersabda :
من سن سنة حسنة  … الحديث
Dari asbab wurudil hadis tersebut, As-Suyuthi menyimpulkan bahwa yang dimaksud sunnah dalam hadis tersebut adalah sunnah yang baik.
Adapun cara mengetahui asbab wurudil hadis sebuah hadis adalah dengan melihat aspek riwayat atau sejarah yang berkaitan dengan peristiwa wurudnya hadis, sebab-sebab wurudnya hadis, ada yang sudah tercantum pada matan hadis itu sendiri, ada yang tercantum pada matan hadis lain. Dalam hal tidak tercantum, maka ditelusuri melalui riw

Nasikh Dan Mansukh

AL-NASIKH WA AL-MANSUKH
(Metode Memahami Hadits)
a.      Pengantar
Nasikh Dan Mansukh            Mempelajari hadits adalah kebiasaan para ulama hadits dari zaman dahulu hingga sekarang, mereka terus membahasnya, seakan pembahasan yang tak bertepi yang membuat generasi baru pecinta ilmu semakin semangat untuk mencari dan membuat inovasi baru, karena melihat inovasi ulama terdahulu yang seakan tidak pernah bertepi.sebab terkadang inovasi tersebut masih tetap belum mampu membawa para pembaca dengan mudah untuk memahaminya. Dalam memahami dan menerapkan hadits kita juga perlu memahami ilmu hadits yang disebutkan oleh para ulama, agar dalam living sunnahnya tidak mengalami kerancuan atau kesimpang siuran. Di antara ilmu hadits yang paling prinsip adalah ilmu nasikh dan mansukh.
1.      Konsep
Al-nasikh wa al-mansukh adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat prinsipil di bidang ilmu hadits, karena dengan mempelajarinya menghilangkan semua kerancuan pada teks sebuah hadits dan dapat mengetahui sejauh mana masa berlaku sebuah hadits dalam pengamalannya di dunia Islam. Namun sebelum membahas lebih jauh saya akan mengawali pembahasan ini tentang definisi nasikh dan mansukh dengan perspektif ulama hadits.
a.      Nasikh
            Secara etimologi nasikh di ambil dari kata naskh yang memiliki dua arti, pertama; menghilangkan. Kedua; memindahkan. Berarti nasikh adalah yang menghilangkan atau yang memindahkan. Namun arti menghilangkan atau menghapus lebih bisa digunakan dalam kaitannya dengan arti terminology.  
            Adapun secara terminologi nasikh memiliki banyak tafsiran, di antara ulama ada yang mendefinisikan ia adalah penjelasan berakhirnya masa berlaku sebuah ibadah. Menurut ulama yang lain ia adalah proses menghilangkan sebuah hukum setelah ditetapkan. Namun banyak dari ulama kontenporer yang ketika mendefenisikannya menitik beratkan pada definisi yang diutarakan oleh imam al-Qaadhi, beliau menyatakan:  
أَنَّهُ الْخِطَابُ الدَّالُّ عَلَىارْتِفَاعِ الْحُكْمِ الثَّابِتِ بِالْخِطَابِ الْمُتَقَدِّمِ عَلَى وَجْهٍ لَوْلَاهُ لَكَانَ ثَابِتًا بِهِ مَعَ تَرَاخِيهِ عَنْهُ.
“ ia adalah hukum yang menunjukan terhapusnya sebuah hukum tetap dengan hukum yang baru berdasarkan sebab yang jika bukan karenanya maka pasti hukum(pertama) itu tetap, juga karena keberadaan (hukum baru itu) terakhir”[1].
            Mungkin untuk definisi nasikh yang lebih luas dan mudah dipahami adalah definisi versi imam Qaadhi, saya yakin definisi ini lebih tepat untuk diambil dalam pembahasan ini.
b.      Mansukh
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa nasikh adalah hukum penghapus atau hukum yang menggantikan hukum terdahulu.Berarti istilah mansukh itu sendiri adalah hukum yang dihapus karena adanya hukum baru.
            Jadi menginai konsep nasikh mansuk ringkasnya kami katakan sebagai penghapus dan dihapus; yaitu hukum baru menghapus hokum yang lama, seperti yang dikatakan dan dianut oleh imam Suyuthi serta dikombinasikan dengan defenisi yang disampaikan oleh imam Qadhi di atas. Adapun imam Suyuti sebagaimana yang beliau pilihkan dalam bukunya Tadriib al-Raawi beliau katakan:
“ penghapusan Allah terhadap suatu hukum lama dengan hukum yang baru” [2].
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat disarikan bahwa ilmu nasikh mansukh adalah: cabang ilmu hadits yang membahas hadits-hadits yang tampak saling bertabrakan maknanya, yang tidak mungkin dapat diharmoniskan antara satu dengan yang lainnya. Maka otomatis peneliti harus menentukan salah satu hadits sebagai nasikh(penghapus) dan hadits yang lain sebagai mansukh(yang dihapus), tentunya yang pertama adalah hadits mansukh, sedangkan yang datang belakangan sebagai nasikh.
            Jadi sederhananya, nasikh adalah yang menghapus hukum lama karena adanya hukum baru, kemudian oleh Allah hukum baru tersebut ditetapkan hingga hari kiamat alias bersifat abadi dan bukan temporal.
c.       Apakah nasikh mansukh teks atau interpretasi?
Sejauh pembelajaran kami tentang ilmu hadits, nasikh mansukh adalah interpretasi bukan teks.  Karena terkadang ditemukan dua hadits yang lafaz atau teksnya berbeda namun tidak terindikasi sebagai nasikh mansukh namun hanya dianggap dialektika atau fariasi semata. Sebagai contohnya hadits-hadits tentang dzikir dan doa iftitah dalam shalat. Atau hadits-hadits yang berkaitan dengan jumlah basuhan ke anggota-anggota wudhu ketika berwudhu, yang terkadang Nabi melakukannya satu kali basuh, terkadang dua kali dan terkadang tiga kali basuh. dan hadits-hadits yang semisalnya sangatlah banyak.
            Oleh karena itu, jika terdapat dua hadits atau lebih yang interpretasinya berbeda dan saling tabrakan walaupun terkadang susunan kalimatnya sama namun tidak bisa dikompromikan maka ia adalah hadits nasikh mansukh, dan model hadits-hadits semacam ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang pertama.
d.      Kapan nasikh mansukh dipakai sebagai solusi hadits mukhtalif?
Ketika terdapat dua hadits atau lebih yang bertabrakan interpretasinya maka hadits tersebut dapat disebut sebagai hadits mukhtalif, sementarahadits mukhtalif  tersebut menurut para ulama terbagi menjadi dua bagian inti;
Pertama: hadits mukhtalif yang masih bisa diharmoniskan, tanpa menempuh jalur naskh. Dan kedua-duanya harus diamalkan.
Kedua: hadits mukhtalif yang tidak bisa diharmoniskan. Maka solusi dari hadits-hadits yang bertentangan tersebut diberlakukan jalur nasikh mansukh. Karena salah satu dari keduanya pasti ada yang benar dan lainya salah. Maka dengan solusi naskh salah satu hadits dapat diamalkan dan yang lainnya harus diabaikan.    
2.      Obyek pembahasan
Objek kajian dalam nasikh wa mansukh adalah matan hadits, Spesifiknya adalah pada hadits-hadits yang kami anggap tergolong dalam nasikh dan mansukh, kami akan mengangkat empat hadits untuk mengklarifikasikan sebagai hadits-hadits nasikh mansukh.
 3.      Urgensi Pembahasan
Ilmu nasikh dan mansukh adalah ilmu yang sangat prinsip bagi siapa saja yang ingin mengkaji hukum-hukum syari’ah, karena tidak mungkin dapat menyimpulkan suatu hukum tanpa mengetahui dalil-dalil nasikh dan mansukh. sebab dengan mempelajarinya menghilangkan semua kerancuan memahami teks sebuah hadits dan dapat mengetahui sejauh mana masa berlaku sebuah hadits dalam pengamalannya di dunia Islam. Tentang penting dan sulitnya ilmu ini maka Imam az-Zuhri penah berkata:
أَعْيَا الْفُقَهَاءَ وَأَعْجَزَهُمْ أَنْ يَعْرِفُوا نَاسِخَ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَمَنْسُوخَهُ
“ parafuqaha telah mengalami kesulitan dan letih untuk mengetahui hadits yang menasikh dan hadits mansukh[3].
            Beranjak dari perkataan imam az-Zuhri ini, ternyata hadits nasikh dan hadits mansukh ini memang sedikit membebani para penuntut ilmu[4], bahkan para ulama fikih pun mengalami kesulitan untuk mengidentifikasinya.Jika imam yang mulia seperti beliau saja berkomentar seperti itu apalagi kita, tentu saja kita harus lebih banyak dan terus memperdalam ilmu semacam ini untuk mengetahui keabsahan serta sejauh mana masa berlaku sebuah hadits Nabi.
            Itulah perjuangan salah satu ulama terdahulu-mewakili yang lain- untuk menyampaikan sunnah Nabi kepada umat ini dengan kemampuan yang mereka miliki. Kemampuan besar yang mereka miliki itu pun masih belum bisa tersampaikan kepada kita, mungkin karena ketajaman pemahaman yang kita miliki masih terbatas. Sebenarnya penjelasan ulama terdahulu yang singkat dan padat itu justru memacu kita untuk bisa berinovasi sendiri dalam memahami dan menerapkan hadits, karena mereka telah membuka jalan kepada kita untuk memahami dan menerapkan hadits, seperti yang telah di lakukan oleh imam syafi’i.
            Kalau diteliti, ilmu ini sebenarnya adalah pelengkap pintu ber-ijtihad, karena tiang besar dari ijtihad itu sendiri adalah menguasai nukilan hadits, di antara manfaat dari nukilan adalah mengenal nasikh dan mansukh.Maka apabila seseorang telah mempelajari ilmu ini ia akan dengan mudah meyimpulkan suatu hukum dari sebuah teks hadits tanpa melihat penjelasan para ulama sebelumnya.
            Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang muslim khususnya peneliti untuk memahami ilmu ini di dalam dunia Islam.
b. Analisa Metode
            Sebagian ahli hadits menggunakan naskh apabila mereka kesulitan dalam menggabungkan dua hadits yang bertabrakan dan tidak dapat diharmoniskan, serta di antara keduannya diketehui mana hadits yang muncul belakangan.
1.      Lantas apa saja metode yang dipakai untuk mengetahui hadits nasikh mansukh?
            Selain mengetahui antara kedua hadits mana yang muncul pertama dan mana yang muncul terakhir sebagai metode mengetahui nasikh mansukh terdapat metode lain untuk mengetahui hadits nasikh mansukh seperti:
1.      Menelusuri Pernyataan terang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, seperti sabda beliau :
”Aku dahulu pernah melarang kalian untuk berziarah kubur.Maka (sekarang) berziarahlah kalian, karena hal itu dapat mengingatkan akhirat” (HR. Muslim).
 2.      Mengetahui Perkataan dan penjelasan Sahabat.
Sebagai contohnya biasanya mereka mengatakan: “bahwa akhir dari dua perkara yang dilakukan oleh Nabi adalah tidak berwudhu(lagi)dari memakan daging (bakar) yang tersentuh api”(HR. Abu Daud dan Nasai)
Pada metode ini Para ulama Ushul melazimkan sebuah syarat, yaitu adanya keterangan dari mereka(sahabat) akan adanya hadits lain yang datang terakhir untuk menghapus hadits pertama. Berbeda dengan ulama ahli hadits, mereka mengabaikan syarat ini karena menurut mereka tidak ada peluang berijtihad atau berlogika. Sebab ilmu naskh ini hanya dapat dicapai dengan mengetahui fakta sejarah, dan tentu para sahabat lebih hebat dalam sejarah Nabi karena mereka yang langsung melihatnya. Serta mereka lebih berhati-hati menjust hokum sebagai naskh tanpa harus mengetahui akhir sebuah hadits untuk menjadi nasikh[5]
3.      Mengetahui sejarah, seperti hadits Syaddad bin ‘Aus :
”Orang yang membekam dan yang dibekam batal puasanya” (HR. Abu Dawud); dinasakh oleh hadits Ibnu ‘Abbas :
”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam sedangkan beliau sedang ihram dan berpuasa” (HR.Muslim).
Dalam salah satu jalur sanad Syaddad dijelaskan bahwa hadits itu diucapkan pada tahun 8 hijriyah ketika terjadi Fathu Makkah; sedangkan Ibnu ‘Abbas menemani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan ihram pada saat haji wada’ tahun 10 hijriyah.
4.      Ijma’ ulama’; seperti hadits yang berbunyi :
Barangsiapa yang meminum khamr maka cambuklah dia, dan jika dia kembali mengulangi yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Imam Nawawi berkata,”Ijma’ ulama menunjukkan adanya naskh terhadap hadits ini”. Dan ijma’ tidak bisa dinasakh dan tidak bisa menasakh, akan tetapi menunjukkan adanya nasikh[6].
            Sebenarnya, problematika naskh dalam hadits tidak serumit dalam al-Qur’an. Namun, sebenarnya tidak juga demikian. Malah sebaliknya, karena pada prinsipnya, al-Qur’an bersifat umum dan universal. Adapun sunnah banyak menangani persoalan-persoalan “partikular dan temporer”, yang dalam hal ini Nabi berposisi sebagai pemimpin umat yang mengatur urusan kehidupan sehari-hari.
Namun, banyak hadits yang diamsumsikan sebagai mansukh, tetapi setelah diteliti ternyata tidak demikian. Hadits-hadits tersebut ada yang mengandung ketetapan(‘azimah). Ada pula yang dimaksudkan sebagai keringanan(rukhshah). Keduanya mempunyai hukum tersendiri sesuai dengan kedudukan masing-masing. hadits terkait oleh kondisi tertentu.
Oleh karena itu, perbedaan situasi tidak berarti adanya naskh. Sebagai contoh, hadits tentang larangan menyimpan daging qurban lebih dari tiga hari yang kemudian dibolehkan. Atau hadits tentang perintah berbuka puasa ketika berperang melawan musuh, dan jika kita berpuasa setelah berperang pun tidak dikatakan sebagai nasikh terhadap hadits perintah berbuka. kedua hadits ini tidak termasuk kategori naskh tetapi hanya menyangkut larangan dalam situasi tertentu dan kebolehkan dalam situasi yang lain atau sebaliknya.
2.      Lantas Bagaimana Proses Memahami Nasikh Mansukh?
            Tentang hal ini Imam Syafi’I telah mengisyaratkannya, beliau menyatakan:” apabila ada dua hadits yang keduanya berkemungkinan diamalkan secara bersamaan, keduannya harus diamalkan, dan salah satunya tidak dapat membatalkan yang lainnya. Namun, jika keduanya bertentangan, maka ada dua opsi untuk penyelesainnya.
            Pertama: apabila diketehui salah satunya nasikh(menghapus) dan yang lainnya mansukh(dihapus), hadits yang nasikh yang diamalkan dan yang mansukh ditinggalkan[7].
            Kedua: apabila tidak diketahui mana yang nasikh dan mana yang mansukh, kita tidak boleh mengamalkan salah satunya dan meninggalkan yang lainnya, kecuali dengan alasan bahwa hadits yang diamalkan itu lebih kuat(sanadnya) atau lebih dekat dengan maksud al-Qur’an dan hadits Nabi atau lebih layak untuk dilakukan analogi(qiyas) padanya, dan menjadi pegangan mayoritas ulama atau para sahabat Nabi”[8].
Itulah metode para ulama dalam menganalisa hadits-hadits Nabi yang terlihat bertentangan satu dengan yang lainnya. Sebelum melanjutkan studi ini, kita perlu mengetahui metode apa yang akan kami gunakan dalam membahas ilmu nasikh dan mansukh. Dalam pembahasan ini saya akan berusaha memilih dan mengidentifikasi hadits sebagai hadits nasikh mansukh disertai penjelasannya dari empat contoh hadits yang kami anggap sebagai nasikh dan mansukh. Jadi menurut kami metode pendekatannya adalah metode penelitian deduktif dengan metode yang dipakai oleh para ulama di atas .
            Perlu saya tekankan bahwa hadits nasikh dan mansukh itu sendiri terkadang termuat dalam sanad dan teks yang berbeda alias terpisah antara hadits nasikh dengan mansukhnya dan terkadang hadits nasikh dan mansukh ini termuat kompleks dalam satu sanad dan teks yang sama.
e.          Analisa aplikasi empat hadits
            Hadits-hadits yang akan kami angkat sebagai hadits nasikhmansukh yang juga dianggap oleh para ulama sebagai nasikh danmansukhpada kesempatan kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Hukum Ziarah Kubur
عن ابن عباس قال لعن رسـول الله زوارات القـبور والمـتخذين علـيها المساجد والسرج
” dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: Rasulullah- shallalhu ‘Alaihi Wa Sallam-bersabda Allah telah mengutuk para peziarah kubur dan orang-orang yang membangun masjid-masjid di atasnya serta menaruh lampu padanya”(HR.Tirmidzi).
            Sebagian para ulama ketika mengomentari hadits ini mereka mengatakan hadits ini telah mansukh dengan hadits yang lain, sebagaimana yang dikemukakan oleh imam Ibnu Syahin dalam bukunya“nasikh al-hadits wa mansukhuhu” ketika menyebutkan hadits ini. hadits yang me-Nasikh-nya adalah hadits berikut:
عن ابن بريدة عن ابيه قال قال رسول الله: كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها، فإن في زيارتها تذكرة
” dari Ibnu Buraidah, dari bapaknya beliau berkata, Rasulullah bersabda:” dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, tapi sekarang berziarahlah, karena menziarahinya mengingatkan(pada kematian)”(HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).
            Imam Ibnu Syahin berkata:” hadits yang pertama derajatnya shahih dan hadits yang kedua ini juga shahih, hanya saja hadits yang kedua sebagai nasikh hadits pertama”[9].
2.      Hadits hukum nikah mut’ah
قَالَ ابْنَ مَسْعُودٍ: كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَيْسَ مَعَنَا نِسَاءٌ ، فَأَرَدْنَا أَنْ نَخْتَصِيَ ، فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْأَةَ إِلَى أَجَلٍ بِالشَّيْءِ
“ Ibnu Mas’ud berkata: dahulu kami bersama Rasulullah-shallalhu ‘Alaihi Wa Sallam- dalam peperangan sementara tidak ada istri-istri yang bersama kami, maka kami ingin berkebiri, namun Nabi melarang kami dari perbuatan itu, kemudian beliau memberikan dispensasi kepada kami untuk menikahi wanita sampai beberapa waktu dengan memberi sedikit mas kawin”(HR.Bukhari, Syafi’i dan Ahmad).
            Dapat dilihatbahwa hadits ini menunjukan pembolehan nikah mut’ah(kawin kontrak)untuk sementara waktu. Hal itu ditunjukan pada ucapan Ibnu Mas’ud “kemudian beliau memberikan dispensasi kepada kami untuk menikahi wanita sampai beberapa waktu dengan memberi sedikit mas kawin”.Ini adalah bagian hukum yang pertama.
Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Sabroh bahwa Nabi bersabda: “sesungguhnya aku dahulu telah membolehkan menikahi wanita-wanita dengan cara mut’ah, sekarang(pada waktu penaklukan kota mekah) sungguh Allah telah mengharamkannya hingga hari kiamat“(HR.Muslim).ungkapan ini adalah bagian kedua. Pada penggalan yang kedua ini menunjukan pegharaman dari hukum sebelumnya.Maka penggalan ucapan yang kedua adalah hadits nasikh, sementara penggalan ucapan yang pertama adalah sebagai hadits mansukh.
            Para ulama, di antaranya imam Nawawi mengatakan, nikah mut’ah pada mulanya dibolehkan, yaitu ketika permulaan Islam, hanya saja pembolehan dari Nabi ini disebabkan sebuah sebab yang telah disebutkan oleh Ibnu Mas’ud dalam hadits di atas dan kejadian tersebut terjadi ketika mereka sedang bersafar.  Padahal Nabi belum pernah membolehkan hal itu ketika mereka berada di rumah-rumah mereka. Oleh sebab itu, berulang kali Nabi melarang mereka melakukan hal itu kemudina pada kondisi yang berbeda-beda beliau juga membolehkannya, sampai akhirnya beliau mengharamkannya pada akhir hari-harinya ketika pelaksanaan haji wada’(perpisahan). Pengharaman ini bersifat abadi selamanya, sehingga tidak lagi ditemukan polemik beda pendapat para ulama kaum muslimin mengenai hukumnya, kecuali yang di amalkan oleh segelintir orang-orang dari Syi’ah saja.
3.      Hukum minum sambil berdiri.
عن ابي هريرة قال  ان النبي صلى الله عليه وسلم  نهى أن يشرب الرجل قائما
” dari Abu Hurairah beliau berkata: sesungguhnya Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wasallam telah melarang seseorang yang minum sambil berdiri”(HRBukhari dan Abu Daud)
            Sekilas dari hadits yang mulia ini jelas melarang umat Islam minum dalam keadaan berdiri, imam Ibnu Syahin dalam bukunya“nasikh al-hadits wa mansukhuhu” ketika berbicara tentang hukum minum berdiri. Di mana beliau ketika menyebutkan hadits di atas beliau lalu menyebutkan hadits berikut ini seakan sebagai hadits nasikh. Hadits tersebut adalah:
عن ابن عباس ان النبي  شرب من زمزم وهو قائم
” dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: sesungguhnya Nabi minum air zam-zam dalam keadaan berdiri”(HR.
Setelah dipelajari,hadits pertama di atas ternyatamansukh sebagaimana yang disebutkan oleh imam Ibnu Syahin, beliau berkata:” hadits(pembolehan) ini diancam terhapus, karena telah shahih dari Nabi bahwa beliau melarang minum dalam keadaan berdiri. Juga di dalam hadits lain, beliau melihat seseorang minum berdiri, maka beliau bertanya padanya, apakah kamu mau jika minum bersama kucing? Ia berkata, tidak. Beliau lalu bersabda:” sungguh telah ada orang  yang lebih buruk dari kucing minum bersama kamu,(yaitu) syaitan”. Padahal telah shahih dari Nabi bahwa beliau dan juga sahabat beliau pernah minum berdiri, dan pembolehan minum berdiri lebih dekat kepada kebenaran daripada pelarangan. Karena pelarangan tersebut jika benar-benar kuat atau yang terakhir dari dua hukum ini, maka sahabat-sahabat Nabi tentu tidak akan minum dalam keadaan berdiri dan jika minum Nabi dalam keadaan berdiri hanya untuknya, maka tentu tidak akan dibolehkan bagi sahabat-sahabat beliau minum dalam keadaan berdiri, karena perbuatan mereka itu masih pada masa Nabi hidup. Oleh sebab itu hadits pembolehan ini justru lebih pantas sebagai nasikh hadits larangan”.
Jika diteliti kembali, maka sangat berat untuk mengatakan hadits larangan telah di-mansukh dengan hadits pembolehan, karena sebenarnya kedua hadits yang terlihat bertentangan ini masih bisa dikompromikan, mengapa demikian?Karena kita bisa mengambil solusi komparasi.Yaitu, membawa teks larangan tersebut sebagai penjelasan dari Nabi bahwa minum dalam keadaan duduk sunnah dan lebih utama atau karena minum dalam keadaan berdiri akan membahayakan kesehatan maka menghindarinya akan lebih baik. Kemudian kita membawa hadits minum dalam keadaan berdiri sebagai penjelasan dari Nabi bahwa hal itu dibolehkan.
4.      Batasan minimal hukuman potong tangan
عن ابن عمر أن النبي قطع في مجن قيمته ثلاثة دراهم
” dari Ibnu Umar beliau berkata: sesungguhnya Nabi memotong tangan dengan sebab mijan yang nilainya tiga(3) dirham[10]“(HR.Bukhari dan Muslim)
            Menurut imam Ibnu Syahin dalam bukunya”nasikh al-hadits wa mansukhuhu”, bahwa hadits ini bertentangan dengan hadits yang teksnya” potong tangan itu pada pencuriansenilai  satu dinar atau sepuluh(10) dirham“(HR.Ahmad dan lainnya). Oleh karena itu menurut asumsi kami, bahwa imam Ibnu Syahin-walaupun tidak secara tegas mengatakan hadits pertama mansukh-seakan mengatakan hadits kedua ini sebagai nasikh hadits pertama.
            Namun jika diteliti lebih dalam, justru hadits yang kedua ini adalah hadits mansukh dari hadits yang pertama, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh imam Nawawi dalam bukunya” al-Minhaj fii syarh shahih Muslim” ketika berbicara tentang hukuman dan batasan minimal pencuruan sang pencuru. Dalam penjelasan beliau yang panjang tersebut, akhirnya beliau memilih pendapat imam Syafi’I dan kebanyakan pendapat para ulama, yang menyatakan bahwa batas minimal barang curian senilai 1/4 dinar atau tiga(3) dirham untuk memberlakukan hukuman potong tangan. Walaupun sebenarnya beliau(imam Nawawi)mengatakan hadits-hadits yang mengatakan batas minimal senilai sepuluh(10)dirham lemah, namun beliau masih tetap berusaha mengkompromikan hadits-hadits ini, sehingga beliau sampai kepada suatu kesimpulan bahwa batas minimal barang curian sepuluh(10)dirham adalah usaha perpaduan pendapat dan bukan sebagai syarat inti untuk memotong tangan si pencuri.

PENUTUP
Kesimpulan
Nasikh ia adalah seruan yang menunjukan terhapusnya sebuah hukum tetap dengan hukum yang baru berdasarkan sebab yang jika bukan karenanya maka pasti hukum(pertama) itu tetap, juga karena (keberadaan) hukum baru itu terakhir”[11].
Jadi untuk definisi nasikh yang lebih luas dan mudah dipahami adalah definisi versi imam Qaadhi, saya yakin definisi ini lebih tepat untuk diambil dalam pembahasan ini.Jadi sederhananya nasikh adalah yang menghapus hukum lama karena adanya hukum baru, kemudian oleh Allah hukum baru tersebut ditetapkan hingga hari kiamat, alias bersifat abadi dan bukan temporal. Sebenarnya dengan adanya nasikh mansukh ini tersimpan hikmah yang amat besar bagi umatnya dalam syariat.
Syari’at Allah adalah perwujudan  dari  rahmat-Nya.  Dia-lah yang  Maha  Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari’at-Nya, Dia mendidik manusia hidup  tertib  dan adil  untuk  mencapai  kehidupan  yang  aman,  sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat.
As-Sunnah bukan merupakan  kesatuan  utuh. Diukur dengan nalar yang serba terbatas pasti  ada  pertentangan  satu  dengan  lainnya. Walaupun sebenarnya masing-masing saling menjelaskan  yufassiru  ba’dhuhu  ba’dha dan saling melengkapi. Sunnah  Suci yang terdiri dari ratusan ribu hadits lebih,  mengandung  berbagai jenis pembicaraan dan persoalan yang mungkin belum terjangkau oleh kita.
Adanya nasikh-mansukh  tidak  mengurangi keotentikannya  sebagai kalam Ilahi yang tersampaikan melalui lisan Nabi Muhammad dan tidak mengurangi  tujuan  yang  ingin dicapainya. Justru adanya nasikh mansukh dalam beberapa masalah akan mencapai tujuan yang diinginkan oleh Allah.mengetahui atau tidak tentang hikmah di balik pertentangan dua hadits yang di kaji, wajib diimani bahwa kebenaran pasti ada di satu kubuh. Karena kebenaran hanya satu.
Wallahu a’lam Bisshawab

DAFTAR PUSTAKA

Ibnu Musa, Muhammad Abu Bakr Zainud Dien, al-I’tibar fii al-nasikh wa al-mansukh min al-aatsaar,( Haidar Abad- Dairatu al-ma’arif al-‘utsmaniyah 1359 H) hal 6.
Ibnu al-Asy’ats, Sulaiman Abu Dawud, al-Sunan(Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi)
Ibnu Muslim, Al-Hajjaj, Shahih Muslim(Beirut- Dar al-Jiil)
Al-Baihaqi, ma’rifah as-Sunan wa al-atsar,(Mesir- Dar al-Wafa’ 1412 H) hal 72.
Ibnu ‘Isa, Muhammad Tirmidzi. Sunan al-Tirmidzi(Beirut- Dar Ihya al-Turats al-Arabi)
Ibnu Syaraf, Yahya Nawawi, al-Minhaj Fi Syarh Shahih Muslim(Beirut-Dar al-Ma’rifah: 2008)
Ibnu Syahin, nasikh al-hadits wa mansukhuhu(al-Zarqa’- maktabah al-manar 1988)hal 275.
Jalaluddin al-Suyuthi, Tadriib al-Raawi fi Syarh Taqriib al-Nawawi(Beirut-Libanon- Muassasah al-Risalah: 2005)
Ibnu Shalaah, al-Muqaddimah(Beirut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah: 2010)hlm 291

[1]Ibnu Musa, Muhammad Abu Bakr Zainud Dien, al-I’tibar fii al-nasikh wa al-mansukh min al-aatsaar,( Haidar Abad- Dairatu al-ma’arif al-‘utsmaniyah 1359 H) hal 6.
[2]   Jalaluddin al-Suyuthi, Tadriib al-Raawi(Beirut-Libanon- Muassasah al-Risalah: 2005) hlm 464.
[3]   Ibnu Musa, Muhammad Abu Bakr Zainud Dien, al-I’tibar fii al-nasikh wa al-mansukh min al-aatsaar,( Haidar Abad- Dairatu al-ma’arif al-‘utsmaniyah 1359 H) hal 3. 
[4]Karena sulitanya menjumpai manuskrip kuno zaman mereka membuat imam Zuhri-walaupun beliau adalah sosok yang banyak mengetahui hadits-hadits Nabi khususnya hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ulama kota nabawi dikala itu-dalam ungkapan beliau yang lain, beliau berkata:” belum ada satu pun ulama yang mendahuluiku dalam tulisanku(pembukuan hadits-hadits secara resmi)”.
                Padahal jika diteliti, beliau adalah ulama yang diandalkan dalam hadits dan kepadanya orang-orang meminta fatwa agama, namun tetap saja menganggap perkara di atas adalah berat.
                Berjalan beberapa tahun muncul generasi-genarasi baru setelahnya, namun belum ada yang mampu menulis semisal spesifik ilmu yang beliau tulis, kecuali ada sebagian kecil dari para ulama yang memaparkannya, namun itupun hanya sekedar isyarat saja dan bukan ulasan secara total.Hingga tiba saatnya seorang sosok ulama yang menjelaskan secara global dan parsial. Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris as-Syafi’I, beliau adalah pemecah rekor-menurut kami-disiplin ilmu ini, membuka jalan, menyimpulkan makna dan telah mengungkap rahasia-rahasia ilmu ini serta telah menata  rapi pembahasan-pembahasannya.
                Diantara buktinya adalah ketika Muhammad bin Muslim bin Warah tatkala mendatangi imam Ahmad bin Hanbal, lalu beliau berkata kepadaku, apakah engkau menulis buku-buku as-Syafi’I?, aku berkata: tidak. Beliau berkata:      
فَرَّطْتَ ، مَا عَرَفْنَا الْمُجْمَلَ مِنَ الْمُفَسَّرِ ، وَلَا نَاسِخَ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ مَنْسُوخِهِ حَتَّى جَالَسْنَا الشَّافِعِيَّ.
“ engkau telah menyia-nyiakan(nya), kami tidak sanggup mengetahui hadits mujmal dari yang mufassar dan tidak pula hadits nasikh dari hadits mansukh hingga berguru kepada as-Syafi’I”
Imam Syafi’I memang telah menyebutkan beberapa hadits tentang disiplin ilmu ini di dalam bukunya “al-risalah”, namun beliau tidak terlalu jauh menjelaskannya, karena tujuan penulisan buku tersebut bukan semata-mata disiplin ilmu ini, beliau hanya membahas cuplikan-cuplikannya yang telah termuat dalam karya-karyanya, seandainya buku-buku tersebut masih ada wujudnya  maka tentu akan memudahkan para peneliti dalam menyelesaikan penelitiannya dan akan memudahkan para penuntut ilmu untuk mempelajarinya, namun apa mau dikata karya-karya tersebut telah habis dimakan massa.
[5]   Lihat:  Jalaluddin al-Suyuthi, Tadriib al-Raawi(Beirut-Libanon- Muassasah al-Risalah: 2005) hlm 465.
[6]   Lihat:  Ibnu Shalaah, al-Muqaddimah(Beirut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah: 2010)hlm 291.
Jalaluddin al-Suyuthi, Tadriib al-Raawi(Beirut-Libanon- Muassasah al-Risalah: 2005) hlm 466.
[7]Seperti hadits Syaddad bin ‘Aus :”Orang yang membekam dan yang dibekam batal puasanya” (HR. Abu Dawud); dinasakh oleh hadits Ibnu ‘Abbas :
”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berbekam sedangkan beliau sedang ihram dan berpuasa” (HR.Muslim).
[8]  Al-Baihaqi, ma’rifah as-Sunan wa al-atsar,(Mesir-Dar al-Wafa’ 1412 H) hal 72.
[9]  Ibnu Syahin, nasikh al-hadits wa mansukhuhu(al-Zarqa’- maktabah al-manar 1988)hal 275.
[10] Dalam riwayat yang lain, 1/4 dinar.Yaitu senilai dengan 3 dinar.
[11]Ibnu Musa, Muhammad Abu Bakr Zainud Dien, al-I’tibar fii al-nasikh wa al-mansukh min al-aatsaar,( Haidar Abad- Dairatu al-ma’arif al-‘utsmaniyah 1359 H) hal 6.